Kembali
Merayakan Diri, Menguatkan Komunitas: Refleksi 19 Bulan Perjalanan WE NEXUS di Bima
Ditulis : Admin
Senin, 16 Februari 2026
Selama kurang lebih 19 bulan, perempuan dari berbagai kelurahan dan desa di Kota Bima bertemu, berdiskusi, belajar, dan berbagi pengalaman dalam Program WE NEXUS. Ketika program ini memasuki fase refleksi pada 15 Februari 2026, yang muncul bukan hanya evaluasi kegiatan, melainkan cerita-cerita perubahan mulai dari pemulihan personal hingga penguatan komunitas.
Kegiatan Refleksi ini dihadiri oleh kelompok perempuan, fasilitator kelurahan/desa (faskel/fasdes), serta mitra pelaksana program, yakni Wahid Foundation bersama La Rimpu dan LP2DER. Alih-alih berfokus pada seremonial penutupan, forum ini dirancang sebagai ruang untuk “merayakan diri”—mengenali proses batin, tantangan hidup, serta perubahan yang dirasakan selama berproses bersama.
Ruang Aman sebagai Fondasi Transformasi
Salah satu benang merah yang kuat dalam refleksi tersebut adalah makna “ruang aman”. Bagi sebagian peserta, ruang aman bukan sekadar tempat berkegiatan, melainkan ruang relasi di mana pengalaman didengar tanpa penghakiman, luka diakui tanpa stigma, dan suara dihargai tanpa syarat.
Seorang peserta yang selama bertahun-tahun menghadapi stigma sebagai orang tua tunggal mengaku baru menemukan ruang untuk pulih setelah bergabung dalam program. Di forum inilah ia dapat menceritakan pengalaman pahitnya tanpa takut disalahkan. Dukungan yang ia rasakan tidak berhenti pada empati, tetapi berdampak pada perubahan cara ia membangun komunikasi dalam rumah tangga barunya. Kesadaran tentang pentingnya kesalingan dan komunikasi dua arah menjadi bagian dari proses pemulihannya.
Peserta lain berbagi tentang rasa tidak percaya diri yang dulu membuatnya memilih duduk di bangku paling belakang dan menghindari berbicara di depan umum. Dalam salah satu sesi, ia diminta mewakili kelompok untuk presentasi. Momen tersebut menjadi titik balik. Dari pengalaman itu, ia mulai berani menyuarakan pendapat, termasuk tentang isu pernikahan anak di lingkungannya. Transformasi personal seperti ini menunjukkan bahwa pemberdayaan tidak selalu dimulai dari intervensi besar, melainkan dari keberanian kecil yang difasilitasi dalam ruang yang suportif.
Dari Refleksi ke Ketangguhan Komunitas
Perubahan yang muncul tidak berhenti pada level individu. Di Kelurahan Paruga, misalnya, refleksi menunjukkan bagaimana perempuan berperan dalam memperkuat kesiapsiagaan bencana banjir yang hampir setiap tahun melanda wilayah tersebut.
Melalui penguatan kapasitas dan kolaborasi dengan kelompok siaga, informasi mengenai kondisi cuaca dan potensi banjir di hulu kini lebih cepat disebarkan ke warga. Perempuan tidak lagi menunggu air datang untuk bersiap, melainkan telah menyiapkan langkah-langkah antisipasi sejak dini. Praktik ini berkontribusi pada berkurangnya dampak kerugian dan meningkatkan kesadaran kolektif tentang mitigasi risiko.
Refleksi juga menyoroti peran perempuan dalam pendampingan kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Salah satu peserta yang menjadi bagian dari satuan tugas perlindungan perempuan dan anak menceritakan bagaimana ia mendampingi beberapa kasus di lingkungannya. Pendampingan dilakukan dengan pendekatan komunikasi, penguatan kepercayaan diri korban, serta pemahaman tentang konsekuensi hukum dan sosial. Meskipun tidak selalu didukung anggaran dari dinas terkait, inisiatif tetap berjalan berbekal komitmen dan solidaritas komunitas.
Di sisi ekonomi, literasi keuangan menjadi pembelajaran penting, terutama menjelang periode dengan beban pengeluaran tinggi seperti bulan Ramadan. Beberapa peserta mengakui sebelumnya terbiasa menghabiskan pendapatan untuk kebutuhan jangka pendek tanpa perencanaan. Melalui pelatihan pengelolaan keuangan, mereka mulai mengenal konsep dana darurat dan perencanaan jangka menengah. Perubahan ini sederhana, namun berdampak pada rasa aman dan ketenangan dalam menghadapi ketidakpastian ekonomi.
Mengkritisi Kata “Tangguh”
Menariknya, sesi refleksi juga menghadirkan pembelajaran metodologis. Nur Hayati Aida, sebagai fasilitator kegiatan ini mengajak peserta untuk tidak berhenti pada kata sifat abstrak seperti “tangguh”, “kuat”, atau “berdaya”. Kata-kata tersebut perlu diterjemahkan ke dalam praktik konkret agar dapat direplikasi oleh komunitas lain.
“Tangguh” dalam konteks kebencanaan, misalnya, bukan sekadar sikap mental, tetapi tindakan nyata: mengenali risiko, menyebarkan informasi peringatan dini, menyiapkan logistik, dan memetakan kebutuhan kelompok rentan. Dengan mengurai makna kata-kata tersebut, refleksi menjadi alat untuk mengidentifikasi praktik baik sekaligus celah yang masih perlu diperbaiki.
Pendekatan ini memperlihatkan bahwa refleksi bukan sekadar evaluasi administratif, melainkan jeda untuk membaca ulang perjalanan. Dalam forum tersebut, peserta diajak menyusun “sungai kehidupan” atau lini masa pribadi—menggambarkan hulu (masa kecil), arus deras (tantangan), batu besar (hambatan), hingga hilir (harapan masa depan). Melalui proses ini, pengalaman personal dipahami sebagai bagian dari perjalanan bertumbuh, bukan sekadar beban masa lalu.
Program Berakhir, Praktik Baik Berlanjut
Refleksi 19 bulan WE NEXUS menunjukkan bahwa dampak program tidak hanya terletak pada jumlah pelatihan atau pertemuan yang terlaksana, tetapi pada perubahan cara pandang dan tindakan peserta. Ruang aman yang terbentuk menjadi fondasi bagi keberanian bersuara, solidaritas lintas desa, dan inisiatif-inisiatif komunitas.
Secara administratif, sebuah program memang memiliki batas waktu. Namun, praktik baik yang lahir dari proses belajar bersama tidak berhenti pada tanggal penutupan. Sistem kesiapsiagaan banjir, pendampingan kasus KDRT, inisiatif literasi keuangan, hingga keberanian perempuan muda untuk menyuarakan keresahan sosial adalah bentuk keberlanjutan yang tumbuh dari dalam komunitas.
Bagi para mitra pelaksana, refleksi ini menjadi pengingat bahwa pemberdayaan adalah proses jangka panjang yang menuntut kesabaran, kepekaan, dan ruang untuk belajar dari pengalaman. Dengan mengedepankan pendekatan partisipatif dan reflektif, WE NEXUS di Bima memperlihatkan bahwa perubahan paling bermakna seringkali berawal dari satu hal sederhana, yaitu ruang untuk didengar.
Ke depan, pembelajaran dari perjalanan ini diharapkan dapat menginspirasi inisiatif serupa di wilayah lain. Karena ketika perempuan memiliki ruang aman untuk mengenali diri dan membangun solidaritas, transformasi tidak hanya terjadi pada individu, tetapi juga pada komunitas yang mereka hidupi.
Bagikan Artikel: