Kembali

Forum PAGUNEMAN Perkuat Perspektif Gender dan Bahas Trauma Keagamaan

Ditulis : Admin

Senin, 24 Agustus 2026

Bandung, 31 Juli 2026 — Sebanyak 40 pegiat dan aktivis lintas iman mengikuti Forum PAGUNEMAN (Pemuka Agama untuk Keberagaman) di Keuskupan Bandung, Jawa Barat, pada 31 Juli 2026. Forum ini menjadi ruang bagi peserta untuk membahas trauma keagamaan sekaligus menyusun pedoman responsif gender di lingkungan keagamaan.


PAGUNEMAN merupakan salah satu rencana aksi yang lahir dari Pelatihan Advokasi Responsif Gender untuk Kemerdekaan Beragama dan Berkeyakinan yang diselenggarakan Wahid Foundation pada Juni 2026. Forum ini digagas oleh Nyayu Zahra Khalida Ulhaq dari FLADS dan Ucu Cintarsih dari Jakatarub, yang melihat perlunya ruang bersama bagi pemuka agama dan pegiat lintas iman untuk memperkuat advokasi keberagaman yang responsif gender.


Membahas Trauma dalam Relasi Keagamaan

Sesi pertama membahas religious trauma atau trauma keagamaan dan dipandu oleh Pdt. Obertina Modesta Johanis. Peserta diajak memahami berbagai bentuk trauma yang dapat muncul dalam relasi seseorang dengan agama maupun institusi keagamaan, serta dampaknya terhadap cara pandang dan partisipasi seseorang dalam kehidupan beragama.


Menurut Pdt. Obertina, komunitas keagamaan memiliki peran penting dalam mendampingi mereka yang mengalami luka atau trauma. Upaya tersebut dapat dimulai dengan keberanian melakukan refleksi kritis terhadap ajaran dan praktik keagamaan, termasuk dengan membuka ruang untuk mengkritisi dan menafsirkan kembali pemahaman keagamaan.


Ia juga menekankan pentingnya menolak berbagai bentuk kekerasan yang mengatasnamakan agama, baik kekerasan verbal, fisik maupun seksual. Komunitas keagamaan perlu membangun lingkungan yang aman dengan mengedepankan dialog, empati, keterbukaan, dan penghormatan terhadap pengalaman setiap orang.


“Pemimpin agama perlu terus belajar berdialog dengan anak muda yang kritis,” ujar Pdt. Obertina.


Menyusun Pedoman Responsif Gender


Pada sesi siang, peserta berdiskusi untuk menyusun pedoman responsif gender di lingkungan keagamaan. Diskusi tersebut dipandu oleh Dr. Neng Hannah, dosen UIN Sunan Gunung Djati Bandung.


Dr. Neng Hannah memperkenalkan perspektif interseksionalitas dan lapisan kerentanan dalam melihat relasi kuasa. Menurutnya, kerentanan seseorang dapat menjadi semakin kompleks ketika beririsan dengan faktor lain, seperti usia dan disabilitas. Kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami ketidaknyamanan, intoleransi, diskriminasi, maupun bentuk kekerasan lainnya.


Diskusi kemudian diarahkan pada penyusunan sejumlah poin praktis yang dapat menjadi acuan bagi komunitas keagamaan dalam membangun ruang yang lebih setara, aman, dan inklusif, khususnya bagi perempuan dan kelompok rentan.


“Pada akhirnya, ini semua kita kembalikan kepada kebijaksanaan masing-masing. Sebagaimana disampaikan sebelumnya: semakin besar otoritas seorang pemimpin agama, semakin besar pula seharusnya tanggung jawab etiknya. Idealnya, memang seperti itu. Maka agama seharusnya menjadi ruang menyembuhkan, bukan ruang melukai,” ujar Dr. Neng Hannah.


Mendorong Advokasi di Tingkat Lokal


Sebagai tindak lanjut forum, tim FLADS dan Jakatarub pada 5 Agustus 2026 menyampaikan pedoman responsif gender di lingkungan keagamaan kepada Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Barat. Penyampaian pedoman tersebut menjadi bagian dari upaya mendorong advokasi kebijakan di tingkat lokal.


Nyayu Zahra Khalida Ulhaq mengatakan, forum tersebut juga menjadi ruang untuk mempertemukan berbagai perspektif, mulai dari ekoteologi, trauma religius, agama maslahat hingga resolusi konflik.


“Kami diskusi terkait ekoteologi, trauma religius, agama maslahat, dan resolusi konflik. Ini penting agar kita bisa terhubung dan saling memberi masukan kepada pemangku kebijakan yang lebih solutif serta menyentuh akar rumput,” ujar Ulhaq.


Forum PAGUNEMAN menjadi salah satu bentuk rencana aksi yang lahir dari program GENFORB (Gender-Responsive Advocacy for Freedom of Religion and Belief) yang dijalankan Wahid Foundation.


Melalui program tersebut, Wahid Foundation mendorong penguatan kapasitas masyarakat sipil dalam mengadvokasi kemerdekaan beragama dan berkeyakinan dengan perspektif yang responsif gender dan inklusif. Forum PAGUNEMAN diharapkan dapat menjadi ruang kolaborasi lintas iman untuk memperkuat praktik keagamaan yang aman, setara, dan menghargai keberagaman.

 

Bagikan Artikel: