Kembali
Delegasi UN Women Pakistan Kunjungi Desa Damai Duren Seribu, Pelajari Model Perdamaian Berbasis Komunitas yang Dipimpin Perempuan
Ditulis : Admin
Selasa, 20 Januari 2026
Depok, 20 Januari 2026 — Delegasi UN Women Pakistan mengunjungi Desa Damai Duren Seribu, Kelurahan Duren Seribu, Kota Depok, Selasa (20/1), untuk mempelajari praktik perdamaian dan keadilan berbasis komunitas yang dipimpin oleh perempuan (Women-Led Community-Based Peace and Justice Models). Kunjungan ini difasilitasi oleh UN Women Indonesia bekerja sama dengan Wahid Foundation.
Desa Damai Duren Seribu merupakan salah satu contoh praktik baik bagaimana perdamaian dibangun dari tingkat akar rumput melalui kolaborasi antara kelompok perempuan, pemerintah lokal, tokoh agama, dan aparat keamanan. Model ini berangkat dari kesadaran bahwa perdamaian tidak cukup dibangun melalui pendekatan keamanan semata, tetapi harus berakar pada keadilan sosial, inklusi, dan kohesi komunitas.
Dari Pemberdayaan Ekonomi ke Kepemimpinan Perempuan
Dalam paparannya, Siti Kholisoh, Managing Director Wahid Foundation, menjelaskan bahwa pendampingan di Duren Seribu dimulai dari kelompok kecil perempuan dengan fokus awal pada pemberdayaan ekonomi. Dua faktor kunci yang membuat program berkembang adalah antusiasme kelompok perempuan serta komitmen dan keterbukaan pemerintah kelurahan.
“Dari pengalaman kami, ketika semangat perempuan bertemu dengan dukungan pemerintah lokal, perubahan sosial menjadi mungkin,” jelasnya.
Seiring waktu, pendampingan tidak hanya berhenti pada akses ekonomi, tetapi berkembang menjadi penguatan kapasitas perempuan dalam isu kepemimpinan, partisipasi publik, hingga keterlibatan dalam proses pengambilan keputusan di tingkat kelurahan.
Perempuan sebagai Jembatan Perdamaian dan Pencegahan Ekstremisme
Wahid Foundation menyoroti bahwa riset dan pengalaman lapangan mereka menunjukkan keterkaitan erat antara ketimpangan ekonomi, eksklusi perempuan, dan lemahnya kohesi sosial, yang dalam konteks tertentu dapat meningkatkan kerentanan terhadap intoleransi, radikalisme, hingga ekstremisme kekerasan.
Melalui Desa Damai, perempuan diposisikan sebagai aktor kunci dalam membangun ketahanan komunitas. Mereka terlibat dalam dialog lintas agama, forum kewaspadaan dini, hingga penyusunan Peace Village Action Plan yang disepakati bersama oleh warga, tokoh agama, aparat keamanan, dan pemerintah kelurahan.
Beberapa inisiatif konkret yang dijalankan antara lain kampanye pesan damai melalui mural, pembentukan sistem early warning dan early response berbasis komunitas, serta penguatan ruang bersama seperti Eco Space Learning Hub yang menghubungkan isu lingkungan, ekonomi rumah tangga, dan solidaritas sosial.
Dukungan Pemerintah Lokal
Lurah Duren Seribu, Kota Depok, Bapak Ahmad Sabani, S.AP, dalam sambutannya menegaskan bahwa perdamaian di tingkat kelurahan hanya dapat terwujud melalui kolaborasi seluruh unsur masyarakat. Menurutnya, keterlibatan kelompok perempuan, tokoh agama, aparat keamanan, RT/RW, hingga lembaga kemasyarakatan menjadi kunci dalam merawat kerukunan dan toleransi di tengah keberagaman warga Duren Seribu.
Sementara itu, Camat Bojongsari, Dr. Suryana Yusup, menyampaikan bahwa Pemerintah Kota Depok mendorong pembangunan yang inklusif dengan menempatkan perempuan sebagai aktor utama, mulai dari pendidikan, kesehatan, ekonomi kreatif, hingga ketahanan sosial.
Ia menilai Duren Seribu sebagai contoh kelurahan dengan praktik pemberdayaan perempuan yang kuat, di mana perempuan tidak hanya menjadi penerima manfaat, tetapi juga penggerak dan pengawas pembangunan di tingkat komunitas.
Pembelajaran Lintas Negara
Chairperson National Commission on Status of Women (NCSW) Pakistan, Ume Laila Azhar, menyampaikan bahwa praktik Desa Damai Duren Seribu memberikan pembelajaran penting tentang bagaimana kepemimpinan perempuan mampu membangun ketahanan komunitas secara menyeluruh.
“We have seen how women have brought change and how these models are helping communities become more resilient by integrating human rights and gender justice, while reducing the risks of radicalization, violent extremism, social conflict, and disasters,” ujar Ume Laila Azhar.
Menurutnya, pembelajaran dari Desa Damai menjadi relevan bagi Pakistan karena menawarkan pendekatan yang kontekstual dengan kawasan Asia dan Asia Pasifik.
“While we have more Western models, understanding the context of Asia, especially Asia Pacific, is very important for us and will help Pakistan develop a holistic approach,” lanjutnya.
Ia menegaskan bahwa upaya membangun perdamaian berkelanjutan harus menempatkan perempuan sebagai aktor utama.
“Addressing these issues means empowering women and bringing women to the center stage, ensuring their agency.”
Menguatkan Agenda Women, Peace, and Security
Model Desa Damai Duren Seribu juga sejalan dengan agenda Women, Peace, and Security (WPS), di mana perempuan tidak hanya dilihat sebagai korban konflik, tetapi sebagai pemimpin, penghubung, dan penjaga perdamaian. Praktik ini bahkan telah menginspirasi adopsi kebijakan di tingkat nasional dan daerah, termasuk dalam rencana aksi pencegahan ekstremisme kekerasan.
Melalui kunjungan ini, Wahid Foundation dan UN Women Indonesia berharap praktik Desa Damai dapat terus direplikasi dan dikontekstualisasikan di berbagai wilayah, serta memperkuat kerja sama regional dalam membangun perdamaian yang berkeadilan dan berkelanjutan.
Bagikan Artikel: