Kembali

Dari Rumah Warga hingga Taman Nasional Baluran, Perjalanan Belajar Harmony in Action di Banyuwangi

Ditulis : Admin

Jumat, 21 Agustus 2026

Banyuwangi, 15 Agustus 2026 — Peserta Harmony in Action dari Indonesia dan Singapura menjalani Learning Journey in Indonesia di Banyuwangi, Jawa Timur, pada 7–15 Agustus 2026. Bagian dari Gusdur School for Peace VI ini dirancang sebagai ruang belajar langsung melalui perjumpaan dengan masyarakat, tinggal bersama warga, mengenal pengelolaan komunitas, mempelajari kerukunan umat beragama, serta melihat praktik pelestarian lingkungan di Banyuwangi.


Selama sembilan hari, peserta mengikuti rangkaian kegiatan yang mencakup live-in di Desa Bangsring, Eco Peace Forum, kunjungan ke Desa Grajagan dan sejumlah tempat ibadah, Desa Wisata Osing, hingga Taman Nasional Baluran sebagai agenda penutup.

Tinggal Bersama Warga di Bangsring


Desa Bangsring menjadi salah satu ruang belajar utama dalam Learning Journey in Indonesia. Desa ini merupakan salah satu Desa Damai Wahid Foundation dan dikenal melalui berbagai inisiatif masyarakat dalam konservasi lingkungan serta pengelolaan potensi desa.


Bangsring juga pernah menerima penghargaan Kalpataru pada 2017 dan menjadi juara East Java Tourism Award (EJTA) pada 2022.

Di Bangsring, peserta menjalani live-in dengan tinggal di rumah warga. Pengalaman tersebut memungkinkan peserta berinteraksi langsung dengan keluarga dan masyarakat setempat, sekaligus mengenal kehidupan sehari-hari warga.


Selain tinggal bersama warga, peserta juga mendapatkan pengalaman belajar mengenai pengelolaan komunitas nelayan di Bangsring. Mereka melihat bagaimana masyarakat mengembangkan potensi lokal dan bekerja bersama dalam menjaga lingkungan serta sumber daya yang menjadi bagian dari kehidupan komunitas.


Pengalaman ini menjadi bagian penting dari proses pembelajaran karena peserta dapat melihat secara langsung bagaimana sebuah komunitas mengelola potensi dan menghadapi tantangan di lingkungannya.


Eco Peace Forum: Menghubungkan Lingkungan dan Perdamaian


Salah satu agenda utama dalam rangkaian kegiatan adalah Eco Peace Forum yang berlangsung pada 10 Agustus 2026. Forum ini mempertemukan peserta dengan masyarakat dan pemangku kepentingan di Banyuwangi untuk membahas lingkungan, pemberdayaan masyarakat, dan perdamaian.


Managing Director Wahid Foundation, Siti Kholisoh, mengatakan Gusdur School for Peace mendorong anak muda untuk memiliki perspektif kepemimpinan
yang inklusif dan toleran.


“Di dalam Gusdur School for Peace ini kita berupaya untuk membangun anak-anak muda memiliki perspektif kepemimpinan yang inklusif. Mereka tidak melihat latar belakang—si kaya atau si miskin, cantik atau tidak, hitam atau putih, suku Jawa, suku Madura atau suku apa pun, agama apa pun. Tetapi bagaimana kemudian pemimpin-pemimpin masa depan memiliki perspektif toleransi dan perspektif inklusif yang kemudian mereka terjemahkan ke dalam kebijakan yang adil dan setara,” ujar Siti Kholisoh.


Menurut Siti, perspektif tersebut menjadi salah satu tujuan besar Gusdur School for Peace. Pengalaman berinteraksi langsung dengan masyarakat menjadi bagian dari proses peserta untuk memahami keberagaman dan menerapkan nilai toleransi dalam kehidupan sosial.


Sementara itu, Asisten Perekonomian dan Pembangunan Sekretariat Daerah Kabupaten Banyuwangi, Suratno, S.Pd., M.Pd., menyambut baik penyelenggaraan rangkaian kegiatan ini.


“Kami berharap rangkaian kegiatan ini dapat berjalan lancar dan penuh kegembiraan, sekaligus menjadi ruang bagi para peserta untuk belajar dan mendapatkan pengalaman dari Kabupaten Banyuwangi,” ujar Suratno.


Selain forum dialog, peserta menampilkan booth yang berisi produk dan program kerja dari daerah masing-masing. Pameran tersebut menjadi ruang untuk memperkenalkan berbagai inisiatif sosial yang telah dijalankan sekaligus bertukar pengalaman dengan peserta lain, masyarakat, dan tamu yang hadir dalam forum.


Belajar Kerukunan dari Masyarakat


Pembelajaran mengenai kerukunan umat beragama juga menjadi bagian dari perjalanan peserta. Mereka mengunjungi Desa Grajagan dan sejumlah tempat ibadah untuk mengenal lebih dekat kehidupan masyarakat dan praktik keberagaman di tingkat lokal.


Melalui kunjungan dan perjumpaan langsung, peserta berkesempatan berdialog dengan masyarakat serta mengenal kehidupan komunitas dari berbagai latar belakang. Pengalaman tersebut menjadi ruang pembelajaran mengenai pentingnya saling menghormati dan membangun hubungan yang harmonis di tengah perbedaan.


Kunjungan ke tempat-tempat ibadah juga memperkenalkan peserta pada kehidupan komunitas keagamaan di Banyuwangi serta praktik kerukunan yang tumbuh dalam kehidupan masyarakat.


Mengenal Budaya di Desa Wisata Osing


Perjalanan dilanjutkan dengan kunjungan ke Desa Wisata Osing. Peserta mengenal budaya, tradisi, serta kehidupan masyarakat Osing sebagai bagian dari keberagaman budaya Banyuwangi.


Interaksi dengan masyarakat memberikan kesempatan bagi peserta untuk memahami budaya lokal melalui pengalaman langsung, sekaligus melihat bagaimana tradisi dan identitas komunitas tetap menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.


Menutup Perjalanan di Taman Nasional Baluran


Rangkaian Learning Journey in Indonesia ditutup dengan kunjungan ke Taman Nasional Baluran. Kegiatan ini menjadi bagian dari pembelajaran peserta mengenai lingkungan dan kekayaan alam Indonesia.


Setelah menjalani pengalaman tinggal bersama warga, belajar dari komunitas nelayan, berdialog dalam Eco Peace Forum, mengenal kerukunan umat beragama, serta mempelajari budaya lokal, kunjungan ke Taman Nasional Baluran memberikan pengalaman lain mengenai pentingnya menjaga lingkungan dan keberlanjutan ekosistem.


Membawa Pulang Pembelajaran


Selama berada di Banyuwangi, peserta juga merefleksikan proyek sosial yang telah mereka jalankan selama enam bulan. Berbagai pengalaman dan perjumpaan selama Learning Journey in Indonesia menjadi bahan bagi peserta untuk melihat kembali proses, tantangan, serta keberlanjutan proyek masing-masing.


Rangkaian kegiatan juga mempertemukan peserta Indonesia dan Singapura dengan masyarakat serta pemangku kepentingan lokal. Pertemuan tersebut membuka ruang pertukaran pengetahuan dan memperluas jejaring antarpeserta dan komunitas.


Melalui Harmony in Action: Learning Journey in Indonesia, Banyuwangi menjadi ruang bagi peserta untuk belajar melalui pengalaman langsung—tinggal bersama warga, mengenal pengelolaan komunitas, berdialog tentang kerukunan, mengenal budaya lokal, serta memahami pentingnya menjaga lingkungan.


Pengalaman tersebut menjadi bagian dari proses peserta dalam mengembangkan perspektif kepemimpinan yang inklusif dan membawa pembelajaran kembali ke komunitas masing-masing.

Bagikan Artikel: