Kembali
Dari Bima untuk Ketahanan Bersama: Warisan Pengetahuan di Akhir Program We Nexus
Ditulis : Admin
Rabu, 18 Februari 2026
Penutupan Program We Nexus di Kota dan Kabupaten Bima pada 16 Februari 2026 bukanlah akhir dari sebuah proses, melainkan penanda transisi: dari pendampingan program menuju kepemilikan lokal atas pengetahuan dan mekanisme yang telah dibangun selama 19 bulan.
Forum Rekomendasi Multi Stakeholder yang digelar sebagai penutup program mempertemukan pemerintah daerah, organisasi masyarakat sipil, komunitas, dan kelompok dampingan. Namun yang paling menonjol dari forum tersebut bukan hanya refleksi capaian, melainkan peluncuran dan penegasan serangkaian product knowledge yang dihasilkan sepanjang program.
Bagi Wahid Foundation, pengetahuan bukan sekadar dokumentasi kegiatan. Ia adalah instrumen perubahan—alat yang dapat direplikasi, diadaptasi, dan diintegrasikan ke dalam sistem pemerintahan maupun praktik komunitas.
Berikut adalah sembilan produk pengetahuan yang menjadi warisan utama We Nexus di Bima.
1. Buku Suara dari Bima
Buku ini merekam narasi pengalaman komunitas—perempuan, kelompok rentan, serta aktor lokal—yang terlibat dalam proses penguatan ketahanan sosial. Ia bukan laporan teknis, melainkan dokumentasi reflektif tentang perubahan persepsi, relasi, dan keberanian untuk terlibat dalam ruang publik.
“Suara dari Bima” menempatkan masyarakat sebagai subjek cerita. Dalam konteks pembangunan perdamaian, dokumentasi naratif seperti ini penting untuk memastikan pengalaman lokal tidak hilang, sekaligus menjadi rujukan pembelajaran bagi wilayah lain.
2. Buku Lembo Ade?
Metode photo voice digunakan untuk memberi ruang bagi komunitas mengekspresikan realitas mereka melalui visual. Buku ini menghimpun foto-foto pilihan yang menangkap isu banjir, kerentanan perempuan, pengelolaan sampah, hingga dinamika sosial pasca konflik.
Produk ini memperluas cara kita memahami ketahanan—tidak hanya melalui data dan kebijakan, tetapi melalui perspektif warga sendiri. Visual menjadi medium advokasi yang kuat, terutama dalam dialog dengan pemerintah daerah.
3. SOP Bencana Banjir Kelurahan
Bima memiliki sejarah kerentanan terhadap banjir. Salah satu capaian paling konkret program ini adalah penyusunan Standar Operasional Prosedur (SOP) Bencana Banjir di tingkat kelurahan.
SOP ini mengatur alur koordinasi, pembagian peran, titik evakuasi, serta mekanisme komunikasi darurat. Dengan adanya SOP, respons bencana tidak lagi reaktif dan ad hoc, melainkan berbasis sistem yang jelas.
Produk ini menjadi fondasi teknis bagi penguatan kapasitas kelurahan dalam manajemen risiko bencana.
4. Panduan Penyusunan EWS Bencana dan Deteksi Dini Konflik
Ketahanan tidak hanya soal respons, tetapi juga pencegahan. Panduan ini mengintegrasikan Early Warning System (EWS) bencana dengan deteksi dini potensi konflik sosial.
Pendekatan ini mencerminkan kerangka Nexus—menghubungkan isu kemanusiaan, pembangunan, dan perdamaian. Melalui panduan ini, aparatur kelurahan dan komunitas memiliki instrumen untuk mengidentifikasi tanda-tanda awal kerentanan, baik akibat faktor alam maupun dinamika sosial.
5. Poster Peta Risiko Banjir
Visualisasi risiko menjadi bagian penting dari edukasi publik. Poster Peta Risiko Banjir memetakan wilayah rawan, jalur evakuasi, serta titik aman.
Keberadaan peta ini membantu warga memahami posisi mereka dalam lanskap risiko. Ia berfungsi sebagai alat komunikasi risiko yang sederhana, namun strategis, terutama dalam konteks kesiapsiagaan berbasis komunitas.
6. Poster Kekerasan Berbasis Gender (KBG) dalam Situasi Bencana
Situasi bencana seringkali memperbesar kerentanan perempuan dan anak terhadap Kekerasan Berbasis Gender (KBG). Poster ini berfungsi sebagai alat edukasi untuk mengenali bentuk-bentuk KBG dalam konteks darurat.
Dengan bahasa yang mudah dipahami dan visual yang komunikatif, poster ini memperluas kesadaran bahwa perlindungan perempuan tidak boleh terabaikan dalam respons bencana.
7. Poster Alur Pelaporan KBG dalam Situasi Bencana
Selain edukasi, mekanisme pelaporan yang jelas menjadi krusial. Poster ini menjelaskan langkah-langkah pelaporan KBG, termasuk institusi yang dapat dihubungi dan prosedur yang harus ditempuh.
Keberadaan alur yang terdokumentasi mencegah kebingungan dan mempercepat respons, sekaligus memastikan korban mendapatkan perlindungan yang layak.
8. Booklet Penanganan KBG dalam Situasi Bencana
Jika poster berfungsi sebagai alat komunikasi publik, booklet ini menjadi panduan teknis yang lebih rinci. Ia memuat prinsip penanganan, koordinasi lintas sektor, serta pendekatan yang sensitif gender dan korban.
Booklet ini dapat digunakan oleh aparat desa/kelurahan, relawan, maupun organisasi masyarakat sipil dalam merespons kasus KBG saat bencana.
9. Buku Panduan Perencanaan dan Penganggaran Responsif Gender
Keberlanjutan program sangat bergantung pada integrasi ke dalam sistem perencanaan dan penganggaran. Buku panduan ini dirancang khusus untuk aparatur desa dan kelurahan agar mampu menyusun perencanaan serta penganggaran yang responsif gender.
Panduan ini menjembatani kesenjangan antara komitmen normatif dan praktik teknis. Dengan instrumen ini, isu perlindungan perempuan, pencegahan perkawinan anak, dan penguatan kelompok rentan dapat masuk secara sistematis ke dalam dokumen perencanaan desa dan kelurahan.
Pengetahuan sebagai Fondasi Keberlanjutan
Penutupan We Nexus menegaskan satu hal: dampak tidak hanya diukur dari jumlah kegiatan, tetapi dari sistem dan pengetahuan yang ditinggalkan.
Sembilan produk di atas bukan sekadar keluaran program. Ia adalah fondasi keberlanjutan—alat yang memungkinkan pemerintah daerah, komunitas, dan kelompok perempuan melanjutkan kerja-kerja ketahanan secara mandiri.
Dengan menempatkan pengetahuan sebagai inti intervensi, Wahid Foundation memperkuat posisinya sebagai organisasi yang tidak hanya mengimplementasikan program, tetapi juga memproduksi model, panduan, dan praktik yang dapat direplikasi.
Program boleh selesai. Namun selama buku-buku dibaca, SOP dijalankan, poster dipasang, dan panduan digunakan dalam perencanaan desa, proses perubahan itu tetap berjalan.
Dari Bima, lahir bukan hanya cerita keberhasilan, tetapi perangkat pengetahuan yang siap digunakan untuk membangun komunitas yang lebih tangguh, inklusif, dan damai.
Bagikan Artikel: