Kembali
Wahid Foundation Luncurkan Program Penguatan Ketangguhan Pemuda Lintas Iman di Poso
Ditulis : Admin
Rabu, 21 Oktober 2026
Poso, 10 September 2026 – Wahid Foundation menggelar Kick Off Program dan Forum Pelibatan Multipihak Building Peaceful Futures through Strengthening Youth-Led Interfaith Resilience in Poso di Hotel Ancyra, Poso Kota, Kamis (10/9). Program ini didukung Kedutaan Besar Denmark di Indonesia melalui SDGs Fund dan berjalan selama satu tahun. Tujuannya memperkuat peran pemuda lintas iman sebagai aktor perdamaian dan kohesi sosial di Kabupaten Poso.
Kegiatan ini dihadiri unsur pemerintah daerah, Kementerian Agama, Majelis Ulama Indonesia, perguruan tinggi, tokoh agama, organisasi masyarakat dan perempuan seperti Fatayat NU, serta 30 pemuda lintas iman dari 10 kecamatan. Kesepuluh kecamatan itu adalah Poso Pesisir, Poso Pesisir Utara, Lage, Poso Kota, Poso Kota Utara, Poso Kota Selatan, Poso Pesisir Selatan, Pamona Selatan, Pamona Utara, dan Lore Tengah.
Pemuda sebagai penjaga perdamaian
Sambutan Bupati Poso dr. Verna Gladies Merry Inkiriwang dibacakan oleh Kepala Badan Kesbangpol Kabupaten Poso, Markarma Lasimpala, S.P., M.P., yang sekaligus membuka kegiatan secara resmi. Bupati menegaskan bahwa perdamaian tidak cukup dideklarasikan, tetapi harus terus dirawat dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
“Pemuda bukan hanya penerima warisan perdamaian, tetapi harus menjadi pelaku, penjaga, sekaligus penggerak perdamaian,” demikian pesan Bupati. Ia juga berharap forum ini melahirkan aksi nyata yang mempertemukan generasi muda lintas agama dalam semangat persaudaraan dan gotong royong.
Poso dipilih sebagai lokasi program karena memiliki lebih dari 60.000 pemuda berusia 15-29 tahun, sekitar 24 persen dari total penduduk. Di daerah yang pernah mengalami konflik komunal pada 1998-2001, pemuda memegang posisi strategis untuk memutus siklus prasangka antargenerasi.
Youth Interfaith Hub
Koordinator program Fachrul Ramadhan memaparkan bahwa program ini akan membangun Youth Interfaith Hub, yaitu wadah kolaborasi pemuda lintas agama dan etnis yang terhubung dengan FKUB serta pemerintah daerah. Rangkaian kegiatan meliputi pelatihan kepemimpinan dan ketahanan psikososial, dialog lintas agama yang dipimpin pemuda, forum advokasi di tingkat desa hingga kabupaten, kampanye publik, dan festival pemuda lintas iman yang direncanakan melibatkan sekitar 300 peserta. Hasil program diharapkan dapat masuk ke dokumen perencanaan desa dan kebijakan daerah.
“Dari dialog menuju kolaborasi, dari aksi menuju perdamaian yang berkelanjutan,” ujar Fachrul.
Memetakan aktor dan tantangan bersama
Dalam sesi pemetaan, peserta mengidentifikasi aktor yang dapat diajak berkolaborasi: Penyuluh Agama (IPARI), FKUB, tokoh agama, Karang Taruna, remaja masjid, ormas dan organisasi perempuan, pemerintah desa, PKK, komunitas tani milenial, hingga sanggar seni. Peserta juga menyampaikan tantangan, antara lain Karang Taruna yang belum aktif, minimnya pelibatan pemuda dalam musyawarah desa, rendahnya pengenalan pemuda terhadap FKUB, polarisasi di media sosial, dan terbatasnya lapangan kerja.
Kementerian Agama menyatakan siap memfasilitasi aksi pemuda melalui penyuluh agama di tiap kecamatan. Rektor Universitas Sintuwu Maroso (Unsimar) berharap kegiatan ini selaras dengan pendidikan, riset, dan pengabdian masyarakat kampus, serta mendukung capaian SDGs 16 dan 17. Kesbangpol berharap hasil forum dapat memperkaya Rencana Aksi Daerah terkait ketahanan dan kerukunan dalam menghadapi ekstremisme.
Pelatihan kepemimpinan
Usai forum, 30 pemuda mengikuti Pelatihan Kepemimpinan Pemuda Lintas Iman dan Pengorganisasian Masyarakat pada 11-12 September 2026. Materinya mencakup kebebasan beragama dan berkeyakinan (FoRB), kepemimpinan inklusif, sembilan nilai Gus Dur dan nilai lokal Mosintuwu/Sintuwu Maroso, pengorganisasian masyarakat, advokasi digital, hingga penyusunan rencana aksi pemuda lintas iman.
Bagikan Artikel: