1. Artikel     →
  2. Alumni GDSP Bekasi Dekati Komunitas-Komunitas…

Alumni GDSP Bekasi Dekati Komunitas-Komunitas Pemuda

Ricky Erviansyah dan Alfian Bangkit Kurniadi memutar otak. Mereka punya tugas yang tidak ringan dari Wahid Foundation. Rugasnya yaitu mengintegrasi pihak-pihak yang pernah berkonflik di Bekasi dengan pendekatan  “anak muda”.

Ricky dan Alfian pemuda dari Bekasi. Mereka alumni Gus Dur School for Peace (GDSP) angkatan pertama yang fokus pendidikannya pada resolusi konflik. Sebelum mengemban tugas mengintegrasi kelompok-kelompok berkonflik, Ricky dan Alfian harus mengikuti serangkaian kewajiban, salah satunya meneliti potensi damai dan konflik di Bekasi. Dari hasil penelitian mereka menilai kasus penolakan pembangunan gereja Santa Clara di Bekasi bagaikan api dalam sekam. Pemuda-pemudi di wilayah tersebut rentan terprovokasi untuk kembali melakukan kekerasan.

Dari masalah itu, dua mahasiswa Unisma Bekasi ini berencana melakukan integrasi bagi pemuda-pemuda yang pernah terlibat konflik dalam kasus gereja Santa Clara. Ricky dan Alfian akan melakukan sejumlah kegiatan yang dapat mempersatukan kembali pemuda-pemuda lintas agama di Bekasi itu. Namun sebelumnya mereka harus melakukan pendekatan yang intesif kepada pihak-pihak yang pernah terlibat konflik tersebut.

Maka pada Selasa 19 Juli 2016 siang, mereka berdua enuju ke Ponpes An-Nur salah satu ponpes yang pernah ikut mengerahkan santrinya menolak pembangunan Gereja Santa Clara. Tapi setelah sampai di sana tidak ada seorangpun yang bisa diajak bicara. Mereka melanjutkan pendekatanke Gereja Santa Clara.

Hari berikutnya Alfian dan Ricky bertemu Epen di Gereja Santa Clara. Epen mengajak tiga temannya untuk ngobrol.  Enam pemuda tersebut terlibat obrolan ringan seputar situasi Gereja Santa Clara, dan kegiatan yang dilakukan pemuda gereja Katolik tersebut. “Para pemuda Santa Clara menyambut positif maksud dan keinginan kami untuk membuat acara-acara bersama mereka,” jelas Alfian.

Salah satu acara yang mereka gagas adalah pertandingan futsal antar pemuda di wilayah Bekasi. “Mereka akan bertanding tanpa harus mengetahui latar belakang lawan tanding merekag,”Alvian menambahkan.

Meski komunitas pemuda gereja Santa Clara lancar didekati, namun dua alumni GDSP dari Bekasi itu masih belum berhasil menjalin komunikasi dengan santri-santri Bekasi. Ricky segera berinisiatif menghubungi temannya yang alumni dari Ponpes At Taqwa. Seperti juga Ponpes An-Nur Bekasi, beberapa santri dari Ponpes At Taqwa Bekasi juga ikut melakukan aksi penolakan pembangunan gereja Santa Clara.

“Kebetulan teman saya itu pernah ikut aksi masa penolakan Gereja Santa Clara. Alasan dia ikut ya karena ikut-ikutan aja,” ungkap Ricky.

Setelah dihubungi Ricky via telefon, mereka kemudian bertemu di rumah kawan tersebut di sebuah perumahan di Bekasi. Ricky meminta kawannya itu agar diperkenalkan dengan para santri santri At Taqwa.

Ricky mengaku baru sekarang dapat menjalin kontak dengan komunitas Ponpes At-Taqwa. Karena saat masa penelitian tiga bulan lalu, ia mengalami kesulitan melakukan pendekatan ke Ponpes At Taqwa dan An-Nur karena tertutupnya sikap ponpes tersebut.

Berkat kegigihan dua alumni SPGD dari Bekasi itu mereka membuat strategi pendekatan dengan memutar, meski belum mendapat kesempatan secara langsung bertemu santri-santri dua ponpes tersebut, mereka telah berhasil mendekati alumni-alumninya.

 

Merangkul Komunitas Pemuda

Tak sekedar mendekati pihak-pihak yang pernah berkonflik, Ricki dan Alfian merangkul elemen-lemen pemuda lainnya di Bekasi. Mereka menggelar diskusi dengan mahasiswa – mahasiswa yang aktif di organisasi internal dan eksternal kampus. Bahasan dalam diskusi berkutat di seputarisu toleransi, kekerasan, bahkan isu perpolitikan nasional.

“Diskusi jadi media yang efektif untuk mendekati dan bisa mengajak mereka untuk bergabung di dalam program kami,” jelas Ricky.

Hadir dalam diskusi yang digelar 25 Juli 2016 dekat Kantor Banom NU Bekasi itu antara lain alumni GDSP Hisyam, Habib Akbar mantan ketua PK PMII UNISMA, Oloan dan Diki ketua dan sekjen PK PMII UNISMA, Aziz dan Rivai mahasiswa yang aktif di HIMTAR. Juga beberapa aktifis mahasiswi yaitu Rika, Senja dan Ega dari HIMASDA. Hadir juga Doni dan Azis alumni santri At Taqwa Bekasi.

Diskusi diakhiri dengan makan bersama dan sholat maghrib berjamaah. Para peserta juga bertukar kontak agar dapat memudahkan dalam berkomunikasi di kesempatan berikutnya.

Proses pendekatan ke berbagai pihak terus dijalin terutama ke komunitas santri An Nur dan At Taqwa. Mereka menemui Toyib, salah satu alumni santri An Nur Bekasi. “Kami masih mencoba melakukan pendekatan denganya agar kami bisa mempunyai jaringan lebih dalam di Ponpes AnNur,” ujar Ricky.

Mereka juga menjalin komunikasi dengan pemuda Santa Clara. Vincent dan Bewok mewakili pemuda gereja Santa Clara. Program lombamembuat content kreatif di media sosial dengan tema besar perdamaian pun ditawarkan.

“Kami juga meminta agar para pemuda Santa Clara berpartisipasi dalam perlombaan ini. Antusiasme mereka tinggi, dan mengundang kami untuk menghadiri turnamen futsal diadakan oleh pemuda gereja minggu depan,” jelas Ricky.

Pemuda Santa Clara menggelar Turnamen Futsal pada 17 Agustus 2016 di Lapangan Estadio Bekasi. Turnamen dimulai dari pukul 10.00 hingga l 21.00 WIB. Sebanyak 13 Paroki yang tersebar di wilayah Bekasi ambil bagian dalam turnamen itu.

“Saya dan alfian menghadiri turnamen ini sejak sore hari, karena kami juga membantu jalannya acara”, ujar Ricky

Setiba di lapangan mereka kembali bertemu dengan Vincent. Lewat Vincent perkenalan Ricky dan Alfian terjalin dengan Ela, ketua Pemuda Gereja Santa Clara. Meski hanya sebentar bertemu Ela, dua alumni GDSP ini sempat membincang rencana program GDSP di Bekasi dan berharap pemuda Santa Clara ikut terlibat dalam kepanitiaan lomba membuat content kreatif yang bakal mereka gelar. Vincent baru merekomendasi dua nama yaitu Alex dan Epen. Dua orang itu yang dinilai paling siap menjadi panitia pada acara yang akan digelar nanti.

 “Bang vincent menjanjikan nama-nama pemuda yang lainnya menyusul minggu depan,”ujar Ricky.

Seperti diketahui lomba yang akan digelar oleh dua pemuda besutan GDSP ini yaitu membuat konten kreatif di media sosial dalam bentuk video dan meme. Temanya seputar perdamaian di Bekasi. Hadiah bagi pemenang dua format content creative itu cukup lumayan. Salah satu syarat kemenangan adalah karya yang mendapat paling banyak suka atau dipublikasi ulang di sosial media.

Agar semakin banyak peserta, Ricky mendatangi SMAnya dulu agar berpartisipasi dalam lomba ini. “Alasan saya mendatangi tempat ini karena yang saya tahu, dari jaman saya SMA dulu, pemuda yang sekolah di sini memiliki sikap toleransi yang sangat tinggi.”

Murid-murid SMA dengan senang hati menyambut ajakan tim GDSP Bekasi ini. “ Semua pemuda disini terlihat sangat tertarik ketika saya menjelaskan susunan-susunan acara mulai dari awal hingga akhir kepada mereka,” kata Alvian.

Dalam menjangkau kalangan muda, mereka akan bekerjasama dengan Pemkot Bekasi dan Kepala Dinas Pendidikan. Dinas Pendidikan Kota Bekasi pun didatangi Riky dan Alfian pada 3 Agustus 2016. Mereka meminta daftar nama dan alamat sekolah SMP serta SMA di Bekasi. “Ini berguna untuk penyebaran pamflet acara perlombaan konten media yang akan saya adakan,” kata Ricky.

Kantor Pemkot Bekasi menjadi target selanjutnya. Mereka berharap pemkot bersedia meminjamkan aula pertemuan untuk keperluan acara yang akan digelar. Setelah mendapat kepastian ijin penggunaan tempat, mereka pun kembali mengubah pamflet acara lomba konten media.

Hal yang sama mereka sampaikan kepada Ketua GP Anshor Kota Bekasi.  “Saya dan Alfian bersilaturahmi dengan bang Jufri sambil berbincang kecil dan meminta saran dan masukan untuk acara perlombaan konten media yang akan kami adakan,”ungkap Ricky

Beberapa perubahan mengenai konten yang akan dilombakan terjadi saat rapat koordinasi pada Jumat, 5 Agustus 2016.  “Setelah berdiskusi dengan Ricky, kami mengubah konsep penggunaan dana pada acara ini. Dampaknya juga terhadap kegiatan lomba. Konten yang diperlombakan hanya essai dan meme saja,” ujar Alfian.

 

Kembali ke Annur

Kembali mereka berencana untuk melakukan pendekatan dengan salah seorang pemuda alumni Ponpes An Nur Pada Senin 8 Agustus. Speerti diketahui ponpes ini pernah ikut terlibat dalam aksi penolakan Gereja Santa Clara. Tapi sayangnya rencana itu gagal karena beberapa alasan. “Ia meminta kepada kita berdua agar menemuinya di lain waktu,” ungkap Ricky.

Keesokan harinya mereka kembali menemui pemuda Santa Clara yaitu Vincent, Bewok dan beberapa temannya untuk ikut memeriahkan acara bakar-bakar di rumah Vincent. Mereka disambut dengan ramah.  “Kami sudah mulai menumbuhkan kedekatan emosional dengan pemuda-pemuda St.Clara,” kata Ricky.

 Mereka pun berbincang-bincang sambil menyantap beberapa ayam panggang dan sate yang mereka buat bersama-sama. Tak terasa hari pun semakin malam. Sesaat setelah makan mereka mengajak semua untuk berkumpul dan membicarakan perubahan konsep acara perlombaan.

“Kita menjelaskan kepada mereka bahwa konten yang diperlombakan hanya essai dan meme saja. Kita juga menjelaskan perubahan nominal hadiah yang akan didapatkan dari perlombaan ini.”ujar Alvian.

Beberapa dari mereka terlihat sedikit kecewa karena nominal hadiah tidak sebanyak dengan yang direncanakan.

Tak lama  berkutat dengan rencana lomba  pada Rabu, 10 Agustus 2016, Alfian menelfon Ridwan alumni santri Ponpes An Nur. Mereka membicarakan rencana bermain futsal antara pemuda Gereja Santa Clara melawan pemuda-pemuda yang menolak Gereja St. Clara.

Hal tersebut disambut baik oleh Ridwan yang langsung mengajak Alfian dan Ricky bertandang ke rumahnya. Ridwan meminta Alfian langsung bertemu dengan teman-temannya untuk membicarakan kegiatan futsal tersebut.

Akhirnya setelah menemui mereka, kesepakatan terjadi. Latihan futsal akan diadakan pada Minggu 14 Agustus 2016. Mereka juga berkomunikasi dengan pemuda-pemuda St. Clara, dan mereka pun menyetujui hari itu untuk diadakan pertandingan itu. (bersambung)

Oleh: Rifkah Nurullita, peserta Sekolah Perdamaian Gus Dur

PARTNERSHIP