1. Artikel     →
  2. Muslim Thailand, “Kami Ingin Belajar…

Muslim Thailand, “Kami Ingin Belajar Perdamaian dari Indonesia”

Guru besar Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, Azyumardi Azra, kerap meyakinkan publik di berbagai forum, bahwa masyarakat moderat di Indonesia terlalu besar untuk ditumbangkan. Persisnya ia mengatakan, “Moderate people is too big to be failed”. Ia punya argumentasi yang disertai data sehingga berani mengatakan hal itu. Hal senada juga kerap dikatakan putri kedua Presiden RI ke-4, Yenny Wahid. “Saya kerap diundang ke luar negeri untuk menceritakan bagaimana Indonesia mampu membangun toleransi.”

 

Kabar mengenai upaya berbagai kalangan di Indonesia untuk memupuk toleransi dan perdamaian di Indonesia juga santer terdengar di Thailand, sehingga membuat lima warga negara Thailand beragama Islam berkunjung ke Wahid Foundation. Lima muslim dari Pattani, Thailand, tersebut adalah akademisi yang sebagian pernah menempuh pendidikan di Indonesia dan sebagian lagi di Malaysia. Kedatangan mereka ke kantor Wahid Foundation di Griya Gus Dur, Jalan Taman Amir Hamzah Jakarta adalah untuk mempelajari cara Wahid Foundation (WF) mengambil bagian dalam menyemaikan perdamaian di tengah masyarakat Indonesia yang multireligi.

Satu di antara mereka, Abdul Hamid Ile, mengatakan, mereka berlima telah mengenal WF sejak lama. WF di mata mereka merupakan sebuah lembaga yang memperjuangkan toleransi antarumat beragama. Atas dasar itulah, mereka mendatangi WF. “Bukan untuk studi banding, itu kurang tepat, melainkan untuk studi saja. Kami ingin studi, bagaimana peradaban antar agama di Indonesia. Wahid Foundation terkenal di mana-mana. Kami ingin studi tentang peradaban antar-agama di Indonesia” kata Abdul Hamid Ile, di Griya Gus Dur, Kamis (15/9/2017).

Wahid Foundation yang diwakili seorang pendirinya, Ahmad Suaedy, berterima-kasih atas kepercayaan yang diberikan kepada lembaganya, dan ia pun lantas menjelaskan profil singkat WF yang didirikan oleh KH Abdurrahman Wahid, seorang tokoh yang terkenal karena toleransi keagamaannya. Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, lanjut Suaedy, merupakan cucu dari Kiai Hasyim Asy’ari, pendiri organisasai Islam terbesar di Indonesia yakni Nahdlatul ‘Ulama. Gus Dur juga pernah menjadi Presiden Indonesia ke-4 menggantikan BJ Habibie.

Suaedy mejelaskan, sedari awal didirikan WF memfokuskan diri pada penyebaran paham Islam yang ramah dan damai. Dalam hal itu WF mengambil sejumlah langkah setrategis, di antaranya dengan menekuni bidang penelitian. “Wahid Foundation telah melakukan banyak penelitian terhadap kajian keislaman, tidak cuma al-Qur’an dan Hadist, namun juga sampai kitab klasik seperti karya Al-Ghozali, Imam Syafi’i dst. Tidak berhenti di situ, WF juga mengkaji kitab kajian keislaman baru termasuk juga pemikiran-pemikiran terbaru,” ujar anggota Ombudsman Indonesia itu.

WF setiap tahun melakukan penelitian di bidang kebebasan beragama dan berkeyakinan di Indonesia. Hal itu dilakoni melalui kerja sama dengan lembaga survey terkemuka di tanah air. Hasil dari itu, setiap tahunnyadipublikasikan secara luas melalui jaringan media WF.

Perselisihan di Pattani

Abdul Hamid menceritakan bahwa di kawasan Pattani, Thailand, telah terjadi perselisihan antara agama selama kurun waktu 13 tahun tahun terakhir. Ketidakharmonisan komunikasi antara pemeluk agama untuk duduk bersama menyelesaikan sengketa antara keagamaan menjadikan masalah lintas agama tidak kunjung selesai. Hal itu membuat ia dan teman-temannya berpikir untuk mengadopsi keberhasilan Islam di Indonesia, dalam menyemaikan perdamaian antara umat beragama.

Dr Lukman, Ketua Jurusan Prodi Islamic Studies di salah satu perguruan tinggi di Pattani, Thailand menanyakan cara WF merespon kekerasan mengatasnamakan agama di Indonesia. Suaedy pun menjelaskan, bahwa paham dan perilaku itu berbeda, sehingga harus dicermati dulu kejadian dan isunya sebelum melempar vonis. Jika isu itu terkait dengan pemahaman, WF akan menghormatinya.

“Seseorang yang memiliki pemikiran untuk mendirikan negara Islam, misalnya, itu bukan menjadi konsentrasi bagi WF. Namun jika ia sudah melakukan kekerasan terhadap mereka yang tidak setuju pada idenya, maka itu menjadi perhatian kami. Kita akan memfasilitasi mereka untuk melakukan diskusi dan perdebatan, baik oral maupun tulisan,” papar Suaedy.

Mengenai demontrasi bernuansa religius, WF juga tidak gegabah dalam berkomentar. WF, pada prinsipnya mendukung upaya demokrasi seperti mengungkapkan aspirasi politik. “Namun kami juga menyampaikan kepada pemerintah untuk membedakan dua hal yaitu aspirasi dan provokasi yang mengatasnamakan agama. Pada prinsipnya begini, kami berada di tengah, tidak ingin menjadi salah satu dari dua kubu ekstrim tertentu” kata Suaedy.

Lembaga Pemerintah

Anis Hamim, salah seorang staff senior di WF  menambahkan, untuk menyelesaikan konflik antar agama, pemerintah memiliki sebuah lembaga bernama Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) yang salah satu tugas utamanya adalah menjembatani komunikasi antara umat beragama di Indonesia. Walaupun terdapat banyak kekurangan hingga saat ini, kata Anis, keberadaan forum seperti FKUB ini sangat penting untuk berdiri di antara sejumlah agama yang hidup di sebuah negara.

Rupanya, hal inilah yang menjadi salah satu bahasan yang ditunggu Dr. Lukman. Ia mengakui bahwa Thailand belum memiliki lembaga sejenis FKUB yang berfungsi sebagai jembatan komunikasi antara agama di Tahiland. Menurutnya, konflik yang terjadi sepanjang kurun lima tahun terakhir menjadi bukti lemahnya sistem penyelesaian konfik lintas agama.

“Dulu awalnya mendirikan (masjid) bebas, karena kami juga ada pimpinan Islam seperti mufti atau syaikhul islam. Namun sejak lima tahun terakhir sering terjadi penolakan dari agama mayoritas untuk kami mendirikan masjid,” kata dia. Pada kesimpulannya, ia merasa perlu bagi pemerintah Thailand, untuk membuat lembaga serupa dan menngkatkan hubungan antara agama sebagaimana yang dilakukan di Indonesia. (*/Rozali)

 

Dikutip dari www.alif.id 

https://alif.id/read/redaksi/muslim-thailand-ingin-belajar-perdamaian-dari-indonesia-b204482p/ 

PARTNERSHIP