1. Artikel     →
  2. Wahid Foundation Gali Masukan Ulama…

Wahid Foundation Gali Masukan Ulama NU Untuk Tangkal Intoleransi dan Radikalisme

 

JAKARTA - Hari ini Wahid Foundation menggelar kegiatan Focus Group Discussion (FGD) bersama dengan para alim ulama dalam rangka persiapan menuju Munas Alim Ulama Nahdlatul Ulama (NU) akhir November mendatang. FGD kali ini fokus membahas pemetaan masalah dan tantangan pencegahan intoleransi dan radikalisme di Indonesia.

Direktur eksekutif Wahid Foundation (WF), Zannuba Ariffah Chafsoh Rahman Wahid atau biasa disapa Yenny Wahid berharap besar agar dalam kegiatan ini seluruh peserta dapat memberikan masukan tentang penangkalan intoleransi dan radikalisme di Indonesia. Hasil dari diskusi nantinya dapat dibawa dalam agenda Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama (NU) yang rencananya akan digelar pada tanggal 23 November 2017 mendatang.

"Semoga rekomendasi dapat memuat hal yang jadi kegelisahan kita terutama intoleransi dan radikalisme di Indonesia. Kami berharap bapak dan ibu dapat memberikan pandangan yang nantinya akan bisa dibawa ke Munas," kata Yenny Wahid dalam sambutannya di Hotel Harris Tebet, Jakarta Selatan, Kamis (16/11/2017).

Menurut Yenny, bersadarkan hasil penelitian yang didapatkan oleh lembaganya, terdapat 604 ribu warga Indonesia yang ternyata terlibat dalam gerakan dan aksi radikalisme. Angka tersebut sama dengan 0,4 persen dari total penduduk di Indonesia, meski begitu jumlah ini sangat mengkhawatirkan sehingga harus segera dilakukan pencegahan agar tidak semakin berkembang.

"Dalam temuan Wahid Foundation, ada 0,4 persen masyarakat Indonesia yang mengaku sudah terlibat dalam gerakan dan aksi radikalisme dan intoleran. 0,4 persen ini kan 604 ribu orang, itu kan sama banyaknya dengan warga DKI Jakarta plus Bali," tukasnya.

Lebih lanjut Yenny menilai para Alim Ulama harus menyikapi dengan serius fakta ini dengan membentuk formula agar radikalisme dan intoleran tidak semakin meluas dan menjadi kultur di Indonesia.

"Potensi besarnya kalau ini tidak dibendung, makin banyak orang melihat intoleransi sebagai gaya hidup wajar, ini ngeri," tegas Yenny.

 

Teks: Ibnu

Foto: Arief

PARTNERSHIP