1. Artikel     →
  2. Rais Syuriah PBNU Tegaskan Indonesia…

Rais Syuriah PBNU Tegaskan Indonesia Tidak Butuh Khilafah

 

Rais Syuriah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Masdar Farid Mas'udi menyebut Indonesia tidak memerlukan khilafah sebab negara ini sudah menjalankan syariat Islam dengan baik dan benar. Karenanya, ia mengaku heran dengan adanya orang atau kelompok yang getol menginginkan berdirinya khilafah di Indonesia.

"Setiap orang (di Indonesia, red) dapat ikrarkan syahadat, puasa tidak masalah, zakat jalan, haji didukung. adanya masalah fundamentalis agama itu kan Islam tidak masalah dengan negara, tapi kenapa sebagian umat Islam masih terngiang-ngiang dengan pembentukan negar Islam," jelas Kiyai Masdar. Hal ini ia sampaikan saat berbicara di FGD Pencegahan Intoleransi dan Radikalisme di Indonesia yang diadakan oleh Wahid Foundation di Jakarta siang ini, Kamis (16/11/2017).

Ia menyebut kelompok radikal dan intoleran yang ada saat ini merupakan kelompok-kelompok yang tidak paham betul dengan makna-makna ajaran Islam. Secara lebih spesifik beliau menyebut bahkan untuk persoalan pemaknaan Arrahman dan Arrahim sekalipun masih banyak yang tidak paham.

"Kalau dilihat maknanya, Pengasih dan Penyayang itu kan seperti tidak ada bedanya, padahal kalau di bahasa pesantren kan beda. Arrahman adalah Dzat kang welas asih ing dunia lan akhirat (Dzat yang pengasih dan penyayang di dunia dan akhirat), dan Arrahim adalah Dzat kang welas asih ing akhirat bloko (Dzat yang maha pengasin dan penyayang hanya di akhirat saja)," ungkapnya.

Kemudian Kiyai Masdar pun menganggap bahwa inilah makna yang sangat besar yang seharusnya dipahami oleh seluruh elemen masyarakat Islam, khususnya di Indonesai saat ini.

"Inilah khazanah keilmuan pesantren yang tidak bisa dipahami oleh umat Islam di seluruh dunia, yang tidak paham makna gandul itu," imbuhnya.

Bahkan menurutnya, pemahaman makna yang mendalam inilah yang membedakan mengapa para santri atau warga pesantren lebih bisa toleran di lingkungan sosial dibandingkan kelompok yang menganut garis keras serta condong radikal dan intoleran itu.

"Kenapa santri-santri pesantren kok lebih toleran? Ya karena memiliki dan memahami makna gandul ini. Dan orang-orang yang berada di golongan yang suka mengkafirkan orang dan teriak bunuh-bunuh itu rata-rata bukan berbasis pesantren," tutupnya.

Teks: Ibnu

Foto: Arief

PARTNERSHIP