1. Artikel     →
  2. Membangun Asa Ibu-Ibu di Desa:…

Membangun Asa Ibu-Ibu di Desa: Catatan Program Wahid Foundation Bersama Perempuan Sukoharjo

Sukoharjo Seorang filsuf Perancis, Voltaire (1694-1778) pernah mengatakan ”apabila kita bicara soal uang, maka semua orang sama agamanya”. Voltaire tentu bukan bermaksud menyamakan agama-agama yang berbeda, namun ia hendak menjelaskan bahwa sekalipun berbeda agama, jika bicara soal uang maka semua orang sama derajat kebutuhannya.

Pernyataan Voltaire di atas mungkin tepat untuk memotret apa yang sedang dilakukan Wahid Foundation di beberapa provinsi di Indonesia. Lembaga yang didirikan oleh Presiden keempat Indonesia KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) ini menggagas kampung damai melalui kelompok usaha kecil dan menengah.

Lewat program Women Participation for Inclusive Society (WISE), Wahid Foundation menggerakan ibu-ibu rumah tangga untuk menjadi motor perdamaian. Sembari merintis usaha, ibu-ibu desa ini diberikan pemahaman tentang perdamaian. Di sela aktivitas menghitung uang, pengemasan dan pemasaran, pesan-pesan damai itu disisipkan.

Di Jawa Tengah, program WISE ini diimplementasikan di Kabupaten Sukoharjo, Klaten, dan Kota Surakarta. Program yang berjalan mulai pertengahan 2017 ini menunjukan perkembangan yang signifikan. Meskipun belum merata, beberapa desa sudah mendekati indikator capaian program.

Kelompok usaha As Sakina di Desa Telukan, Kecamatan Grogol, Kabupaten Sukoharjo salah satunya. Kelompok ini telah berjalan sesuai dengan harapan Wahid, beberapa capaian juga dialami secara signifikan. Kabupaten Sukoharjo sendiri dikenal sebagai daerah tumbuh suburnya kelompok ormas radikal. Begitu pun di Desa Telukan. Di sana terdapat kelompok yang oleh masyarakat disebut sebagai ”orang-orang Wahabi”.

 

Komunikasi

Seringnya berkomunikasi, bertemu dan berdiskusi telah membantu ibu-ibu paham potensi masing-masing. Saat ini, di Desa Telukan sudah berdiri tiga kelompok usaha kecil, namun ada satu kelompok keagamaan dalam Islam yang belum bergabung dengan grup usaha.

”Kita juga dalam satu kelompok (usaha-As Sakinah) bukan hanya orang Muslim. Tapi juga ada non Muslim. Yang non Muslim ada satu orang. (Islamnya pun beragam) Ada orang NU, Muhammadiyah, MTA, dan juga ada yang LDII,” jelas Ketua Kelompok Usaha As Sakinah, Martina Wardhalia saat ditemui di sela kegiatan, Selasa, 7 Novermber 2017.

”Ada satu kelompok Islam di Desa Telukan yang belum mau bergabung. Warga menyebut kelompok itu Wahabi. Tapi kelompoknya sendiri tidak mau disebut Wahabi. Kedepan akan kami ajak bergabung di kelompok usaha kami, siapa tahu mereka punya potensi usaha bagus,” lanjutnya.

Kelompok As-Sakinah sendiri beranggotakan 150 ibu-ibu. Ada yang fokus pada usaha produksi kerajinan seperti tas, dompet, dan slendang rajut. Ada pula kelompok yang fokus produksi jajanan atau kue seperti arem-arem, lapis, nagasari dan jajanan yang dikemas untuk oleh-oleh.

”Kemarin mendapat ucapan selamat dari Bupati (Sukoharjo), sekarng sudah sering diajak pameran. Kami juga mengirim surat ke Gereja Kristen Jawa (GKJ) Telukan untuk memasang display pameran. Pihak gereja yang menawarkan ke kami. Jadi gereja sekarang sudah membuka untuk kerjasama pameran,” tambah Martina.

 

Dipesan Gereja

Karena anggota kelompok yang berbeda agama dan keyakinan itu, produk dari kelompok usaha As-Sakinah sudah dipesan di banyak acara. Selain kegiatan gereja, beberapa kegiatan warga seperti pengajian mulai memesan jajanan kelompok ini.

Semua anggota bersatu, setelah membentuk kelompok mereka bahu membahu memajukannya. Mereka tak ada perbincangan soal perbedaan keyakinan keagamaan. Mereka bersama, berdiskusi, gotong royong bagaimana caranya supaya produk kelompoknya laku di pasara.

Perkembangan signifikan juga terjadi di Kabupaten Klaten. Dari sekian puluh desa sasaran, Desa Nglinggi, Kecamatan Klaten Selatan, Kabupaten Klaten yang sudah mendeklarasikan kampung damai. Desa ini dari sisi kelompok usaha maupun perkembangan wawasan perdamaian berjalan beriringan.

”Kalau kita sekarang sudah menerapkan aturan, jadi kalau ada acara makanan seperti snack dan lainnya itu diambil dari produk anggota (kelompok usaha). Jadi kita tidak perlu pesan di luar. Kemarin deklarasi kampung damai, dihadiri 600 orang lebih, makanannya dari anggota kelompok semua,” kata Angota Kelompok Usaha Arum Sari, Eka Mihastuti M.S.
Senada dengan Eka, Kepala Desa (Kades) Nglinggi, Sugeng Mulyadi mengatakan, perekonomian di tingkat desa harus maju. Menurut Kades, Desa Nglinggi mempunyai misi mewujudkan desa dengan ekonomi baru. Artinya masyarakatnya harus mempunyai alternatif usaha baru.

 

Kampung Damai

”Ekonomi baru itu, misal, ibu-ibu mempunyai penghasilan sendiri untuk mendukung ekonomi keluarganya. Dengan ekonomi yang baik, keluarga akan baik, kalau keluarga ekonominya baik, maka akan bahagia,” jelas Kades.

Persoalan di desa memang kompleks. Selain soal kenakalan remaja, sempitnya lapangan pekerjaan juga menjadi problem mendasar. Ketika keluarga tak bekerja, pastinya keadaan ekonomi kurang baik. Jika keadaan ekonomi tidak sehat, maka benih-benih konflik akan tumbuh.

”Tapi sebaliknya, jika ekonomi keluarganya kembang-kempis untuk mencukupi kebutuhan dasar saja sulit, itu mesti dapat dipastikan rawan konflik. Di keluarga dan masyarakat juga. Tapi jika ekonominya bagus, keluarganya bahagia maka pastinya orangnya itu smile, kan begitu,” lanjut Kades.

Memang peran kepala desa sangat menentukan kondisi masyarakat di akar rumput. Apabila perangkat desa mempunyai sense keberagaman, kesejahteraan dan persamaan maka perdamaian akan tercipta.

Maka, jika warga yang beragam keyakinan agama itu duduk bersama, bicara soal usaha, penghasilan, dan keuntungan, tak lagi muncul kata kafir-mengkaifrkan.

Penulis: Ceprudin

tulisan sudah dimuat di http://elsaonline.com dengan judul "menyatukan nu mta md dan kristen melalui kelompok usaha".

PARTNERSHIP