1. Artikel     →
  2. Abadi Dengan Tulisan; Catatan Kemah…

Abadi Dengan Tulisan; Catatan Kemah Jurnalisme Damai

“Orang boleh pandai setinggi langit. tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian”. Agaknya kutipan dari Pramoedya Ananta Toer itulah yang coba disampaikan oleh Nurul Huda Ma’arif, tokoh pencetus santri menulis saat berbicara di depan puluhan peserta Peace Journalism Camp Wahid Foundation di Jakarta, Sabtu (11/12/2017).

Ditemui di sela acara, kyai muda kelahiran kota Batang, Jawa Tengah ini menuturkan alasan mengapa generasi muda Indonesia harus senantiasa menulis.

“Secara fisik, kita tidak akan selamanya hidup. Nah apa yang akan menjadikan hidup kita abadi? Tidaklah lain adalah melalui tulisan. Tulisan akan melanggengkan sejarah kita. Jika kita tidak menulis, maka benar kata Pramoedya, kita akan termakan oleh sejarah dan tidak memiliki kenangan apapun. Karena itu anak muda perlu untuk menulis dan saya yakin mereka sudah terbiasa menulis,” tuturnya.

Namun demikian, hasil dari kemampuan menulis itu terbagi menjadi dua. Tulisan yang berbobot dan tulisan yang tidak berisi. “Itulah yang akan disampaikan dalam workshop Kemah Jurnalisme Damai ini, yakni bagaimana peserta bisa menghasilkan tulisan yang bermanfaat dalam konteks perdamaian dunia,” imbuhnya.

Nurul pun menyatakan keyakinannya bahwa Kemah Jurnalisme Damai ini bisa melahirkan penulis-penulis yang serius dan konsisten, serta bisa memilih isu yang mendamaikan. “Harus fokus pada perdamaian, jangan ‘belok’ kemana-kemana,” pesannya.

Bicara ihwal perdamaian dunia, di mana pemikiran dan gerakan ekstrim mulai menyebar luas, Nurul menegaskan pentingnya melindungi anak dari ekstrimisme dan radikalisme, dan hal itu harus dimulai dari lingkungan dan pola pikir keluarganya.

“Anak-anak ibarat pohon yang ditanam. Pohon ini bisa tumbuh bagus atau tidak, tergantung dari bagaimana kita menyiramnya. Siapa yang menyirami anak? Adalah lingkungannya, keluarganya, dan gurunya. Karena itu jika kita ingin anak kita tumbuh dengan baik dan menghindari hal-hal yang ekstrimis, harus dijamin juga bagaimana pembentukan lingkungannya. Orang tua harus memiliki target, jika ingin anaknya menjadi anak penyebar kedamaian, maka mereka harus paham di lingkungan seperti apa anaknya ingin ditumbuh-kembangkan,” tandas Nurul.

 

Teks: M. Ibnu Idris

Foto: Fatma

PARTNERSHIP