1. Publikasi     →
  2. Intoleransi Kaum Muda di Tengah…

Intoleransi Kaum Muda di Tengah Kebangkitan Kelas Menengah Muslim di Perkotaan

Dalam beberapa tahun terakhir gejala radikalisme dan intoleransi meningkat di kalangan muda. Naiknya minat generasi muda Islam bergabung dalam organisasi-organisasi atau kelompok-kelompok intoleran turut mensuplai besarnya peningkatan gejala tersebut. Segera mereka menjadi intoleran dan ekstremis yang mengarah pada tindakan kekerasan. Siaran pers Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) memperkuat sinyal situasinya telah bergerak semakin dalam. Di Indonesia, menurut laporan mereka, sebagian pelaku aksi terorisme diketahui berusia muda. Berada di rentang usia 23-27 tahun dengan pemahaman keagamaan yang rendah, mereka menjadi korban perekrutan dan cuci otak jaringan teroris.

Selain itu, survei Wahid Foundation tahun 2016 terhadap Organisasi Rohani Islam (Rohis) Sekolah Menengah Atas Negeri di Indonesia menunjukkan bahwa 60% responden bersedia menjalankan misi Jihad ke negara-negara yang dilanda konflik agama; Dengan 68% responden bersedia untuk melanjutkan misi tersebut di masa depan. Ada 37% responden yang sangat setuju, dan ada 41% responden yang setuju dengan gagasan bahwa Islam harus digabungkan menjadi satu kekhalifahan.

Temuan-temuan di atas menunjukan bagaimana kaum muda menjadi kelompok yang rentan menjadi korban indoktrinasi kekerasan atas nama agama. Merespons keadaan tersebut, Wahid Foundation menyelenggarakan diskusi ahli “Pemuda, Kelas Menengah Muslim, dan Tantangan Intoleransi dan Radikalisme di Perkotaan” Selasa 17 Oktober 2017 guna membahas fenomena generasi muda millenial dan variasi perkembangannya khususnya di ruang lingkup perkotaan.

Tulisan yang merupakan ringkasan eksekutif dari hasil diskusi ahli tersebut menemukan bahwa kelas menengah muda muslim berada pada situasi kecemasan sosial akan ketidakpastian perkembangan ekonomi, pendidikan, dan politik baik lokal maupun nasional. Kecemasan tersebut didukung oleh berkembang bebasnya akses internet yang tidak menjamin adanya ruang  dialog yang terbuka dan positif. Akhirnya, alih-alih tercerahkan, banyak dari kelompok millenial cenderung rentan terpapar akibat negatif dari pemahaman agama a la media sosial.

 

Dokumen lengkap, sila unduh di sini

PARTNERSHIP