1. Artikel     →
  2. Wahid Foundation Gelar Kunjungan Lintas…

Wahid Foundation Gelar Kunjungan Lintas Iman di Tasikmalaya

WAHID FOUNDATION, TASIKMALAYA – Wahid Foundation menggelar kunjungan lintas iman ke sejumlah rumah ibadah di Kota Tasikmalaya Jawa Barat bersama belasan pemuda alumni training content creators for pluralism and tolerance, pada Selasa, 19 September 2017. Kunjungan ini tak lain dimaksudkan untuk meningkatkan hubungan antar agama dan menjalin toleransi antar umat beragama.

Staf Senior Wahid Foundation, Anis Hamim, menyampaikan bahwa kegiatan ini diilhami oleh kebiasaan pendiri Wahid Foundation KH. Abdurrahman Wahid yang kerap menggelar silaturrahmi serupa dengan berbagai kelompok tanpa membedakan status keagamaan dan latar belakang budaya. Kebiasaan tersebut, lanjut Anis, merupakan best practices yang perlu ditularkan kepada generasi muda untuk meningkatkan keharmonisan hubungan keberagamaan.

“Kami dari Wahid Foundation melakukan kunjungan ke Gereja Katolik Hati Kudus Yesus ini untuk melakukan silaturahmi, serta mengharapkan ada sharing informasi untuk meningkatkan Toleransi dan Plularisme,” kata Anis di sela-sela sambutannya.

Kunjungan ini disambut hangat oleh pengurus gereja. Dalam sambutannya Romo Widodo wakil pimpinan Gereja Katolik Hati Kudus Yesus menyebut kegiatan ini sebagai aktivitas positif yang baik sekaligus dapat menghilangkan perpektif negatif karena kecurigaan pada kelompok agama lain. “Hal yang sangat bagus ketika kunjungan ini bermaksud silaturahmi dan berdialog, karna kami suka orang yang suka berdialog, agar supaya tidak ada saling curiga satu sama lain terkait dengan ritual peribadahan yang kami lakukan,” ujar Widodo.

Kesempatan ini dimanfaatkan oleh para peserta untuk melakukan dialog bebas dengan para pengurus gereja. Sindi, misalnya, salah seorang peserta yang berasal dari kampus Sekolah Tinggi Agama Islam Tasikmalaya menanyakan apa yang dirasakan anggota jemaat Katolik, yang hidup di lingkungan dengan mayoritas umat Islam, dan bagaimana cara agar bisa menyatu dengan masyarakat dengan latar belakang keagamaan yang berbeda.

Pertanyaan Sindi mendapat tanggapan dari Nandar, pengurus gereja lainnya yang juga hadir dalam forum dialog tersebut. Nandar mengatakan, kendati mayoritas warga Tasikmalaya adalah muslim, namun umatnya tidak mengalami kendala saat berbaur dengan masyarakat sekitar. Sebagaimana kelompok agama lainnya, umat Kristiani juga diharapkan oleh pemimpin umatnya untuk berpartisipasi dalam kehidupan sosial masyarakat.

Klarifikasi; Hoax Kristenisasi "menggunakan" Mie Instan

Seringkali, di sela-sela dialog, forum dibuat tertawa oleh sejumlah fakta yang selama ini berangkat dari persepsi yang keliru. Misalnya, ketika seorang peserta menanyakan kebenaran kristenisasi dengan menggunakan Indomie. “Kita sering mendengar bahwa kristenisasi biasa dilakukan dengan menggunakan sekardus Indomie. Itu benar tidak, Pak?” tanya seorang peserta yang disambut tawa oleh forum.

Menanggapi hal tersebut, Widodo menjelaskan bahwa proses menjadi umat Katolik tidaklah sederhana. Terdapat sejumlah rangkaian pemantapan dan persiapan yang harus dilalui oleh sesorang yang hendak memeluk agama Katolik. “Proses menjadi Katolik itu panjang, tidak bisa pakai indomie. Jadi itu tidak benar,” kata Widodo.  

Widodo menjabarkan, ada dua cara menjadi seorang Katolik. Pertama, proses menjadi Katolik  seorang bayi dari pasangan orang Katolik. Bayi demikian, lanjutnya, bisa langsung dibaptis menjadi Katolik. Kedua, adalah proses menjadi Katolik orang dewasa. Proses kedua ini memakan waktu yang cukup panjang.

“Syarat yang pertama adalah adanya rekomendasi dari kedua orang tuanya. Jika sudah ada maka orang itu akan menjalani proses Katumenag, yakni sebuah proses belajar agama Katolik  yang akan dilakukan selama 43 kali pertemuan,” jelas Widodo. Proses ini, lanjutnya, dilakukan  untuk memahami materi-materi keKatolik an. “Lalu setelah itu ada proses lain yang disebut proses penerimaan yang dilakukan satu bulan sebelum dibaptis (menjadi Katolik),” jelasnya.

Keliling Gereja dan Foto Bersama

Hampir keseluruhan peserta yang hadir terlibat dalam tanya jawab, sehingga forum dialog begitu interaktif dan hidup. Di akhir dialog, peserta diajak masuk ke dalam gereja untuk melihat bangunan dan interior di dalam gereja. Sesampainya di dalam gereja, para peserta disuguhi penjelasan gamblang tentang aktivitas keagamaan yang biasa dilakukan umat kristiani di dalam gereja, misalnya tata cara beribadah dan berdoa saat Misa. Selain menjelaskan aktivitas peribadahan, para pengurus gereja juga menjelaskan fungsi sejumlah sudut di dalam gereja, misalnya ruang pengakuan dosa, juga ke-14 gambar yang mengisahkan saat Yesus membawa salib dan mimbar tempat pimpinan gereja memimpin Misa.

Foto Kunjungan Keagamaan

Sebagai generasi yang hidup di era milenial, tentu saja mengabadikan kegiatan dalam foto menjadi sebuah keharusan. Puluhan orang yang terlibat sejak awal dalam dialog tersebut mengabadikan kegiatan dengan foto bersama berlatarkan salib besar yang terpajang di atas dinding. Para peserta dan pengurus gereja nampak senang dengan kunjungan tersebut, dan berharap semoga kegiatan dialog serupa bisa dilakukan kembali di kemudian hari.

Selain bertujuan meningkatkan persaudaraan lintas iman, kunjungan ini merupakan ajang peningkatan kreativitas bagi peserta yang merupakan content creator asal kota Tasikmalaya. Dari kunjungan ini, diharapkan para peserta mendapat inspirasi untuk terus mempromosikan dan melakukan kampanye melalui konten media online dan media sosial tentang hidup damai di dalam masyarakat dengan perbedaan keyakinan dan agama.

Kunjungan lintas iman di Kota Tasikmalaya tidak hanya dilakukan di gereja Katolik saja, namun juga gereja Kristen Advent. Usai melakukan dialog selama kurang lebih satu setengah jam, rombongan dari content creator merumuskan kampanye yang akan dilakukan yang bersumber dari dua kegiatan kunjungan ini.

Ahmad Rozali Media and Campaign Officer of Wahid Foundation

PARTNERSHIP