1. Articles     →
  2. Toleransi Jaman Now

Toleransi Jaman Now

16 November diperingati sebagai hari Toleransi Internasional. Toleransi sendiri menurut Wikipedia adalah sikap menghormati dan menghargai antar individu maupun antar kelompok yang berbeda dalam masyarakat.

Saya sendiri memandang toleransi adalah menerima dengan pikiran tangan terbuka bahwa kita hidup dalam perbedaan, namun bisa menerima perbedaan tersebut tanpa mempermasalahkannya dan menjadikan sebuah masalah. Saya juga memandang bahwa aspek-aspek yang berbeda tersebut adalah hak setiap individu dan karenanya menjadi privasi setiap individu sehingga orang lain tidak berhak mengusiknya. Sejak kecil pun saya sudah diberi pemahaman bahwa saya dan dia dan kamu berbeda.

So what? Nothing happens with that differences. We still can be a friends ‘cause we talk with love and humanity.

Belakangan ada yang menggelitik saya. Ini berawal ketika seorang anak tetangga kira-kira kelas 1 atau 2 tingkat Sekolah Dasar tiba-tiba bertanya kepada saya “agamamu apa?”. Saya yang shock sesaat kemudian mengambil sikap untuk menganggap itu hanya bercandaan dan tertawa saja tanpa menjawab pertanyaan anak tersebut. Saya pikir itu pertanyaan iseng. Beberapa hari kemudian saya tahu bahwa itu bukan pertanyaan iseng, tetapi pertanyaan serius yang memang sengaja ditanyakan anak tersebut.

Ini karena selang beberapa hari kemudian si anak ini menanyakan ulang hal yang sama kepada Ibu saya dan saat itu ada Ibu dari si anak ini. Sebelum Ibu saya menjawab, Ibu anak ini mengatakan “itu loh sama dengan si A”, si A ini beragama sama dengan kami.

Tentu saja kami terkejut dan tak habis pikir bagaimana pertanyaan ini terlontar dari anak sekecil itu. Apa yang sudah dia pelajari, dia lihat dan dia terima selama ini? Apa yang sudah diajarkan kepadanya? Apa dia sudah paham apa sejatinya agama itu? Apa dia sudah diajarkan tentang perbedaan dan bagaimana menyikapi perbedaan tersebut? Kenapa begitu penting bagi si anak ini menanyakan apa agama orang lain?

Di antara semua hal di atas, yang paling kami sayangkan adalah reaksi yang diberikan oleh orang tua si anak, yang menurut kami tidak bijaksana. Dalam pemikiran kami, agama adalah privasi dan karenanya menjadi tidak sopan ketika ditanyakan seperti itu. Dalam pikiran sempit kami, alangkah bijaksana dan indahnya ketika si Ibu berkata “sayang, tidak boleh menanyakan itu, itu tidak sopan. Apapun agama orang lain tidaklah penting, karena semua agama mengajarkan kebaikan. Yang lebih penting adalah menjadi orang baik yang mencintai semua makhluk Tuhan”.

Semoga halusinasi kami ini masih bisa diwujud-nyatakan di negeri ini. Semoga kita semua bisa berperan aktif menjaga kedamaian dan keharmonisan dalam masyarakat. Karena menjaga toleransi di jaman now adalah tugas besar kita bersama. Demi anak cucu kita kelak.

Penulis: Kirana Dewi

foto: Kompasiana

Recent Opinion

PARTNERSHIP