1. Articles     →
  2. Sewindu Gus Dur dan Pandangannya…

Sewindu Gus Dur dan Pandangannya tentang Ekstremisme Kekerasan

oleh: Alamsyah M Djafar

 

30 Desember, tanggal yang sama dengan hari ini, Gus Dur pergi. Delapan tahun silam. Kabar ini saya dengar di atas kereta Manggarai-Depok yang berjubal. Orang-orang dekat saya berdiri membicarakannya.

Berhenti di Pasar Minggu, saya dan Subhi Azhari kembali ke Manggarai lalu membelah kemacetan menuju RSCM. Tiba di sana suasana semrawut. Banyak yang menangis. Pelayat yang datang seperti laron mendekati lampu.

Saya lupa berapa lama saya di sana. Akhirnya keranda berisi jenazah Gus Dur ditandu keluar diiringi isakan tangis dan gemuruh la ilaha illallah. Belakangan baru saya tahu dari Mbak Alissa Wahid jika suasananya begitu amat mengkhawatirkan pihak RSCM. "Gus Dur harus segera dibawa keluar gedung. Khawatir gedung tak mampu menahan beban lalu ambrol." Kira-kira begitu desakan manajemen RSCM.

Pelayat memang terus mengalir. Di Ciganjur, jumlahnya tak berkurang, bahkan bertambah. Jika tak bawa kartu pengenal Wahid Institute, mungkin saya harus menunggu beberapa jam karena ditahan masuk Banser dan Paspamres.

Saya kira, Gus Dur tak bakal mendapat sebegitu besar penghormatan masyarakat jika beliau tak menghidupi nilai-nilai baik dan universal. Itu rumus dunia yang sederhana.

Salah satu yang diperjuangkannya adalah bagaimana membangun perdamaian dan menghindari kekerasan. Salah satu yang sudah disuarakannya sejak tahun 80-an atau bahkan jauh sebelum itu. Gus Dur menolak tindakan eksklusivisme, ekstremisme, apalagi kekerasan, atas nama apapun, termasuk atas nama tuhan dan agama.

Untuk memahami dan merumuskan bagaimana pandangan dan ide-ide Gus Dur tentang ekstremisme kekerasan, Wahid Foundation mencoba memformulasikannya dalam sebuah kertas kerja. Dihasilkan dari ekstraksi diskusi publik dan kajian literatur oleh Muhammad Nurul Huda. Semoga berguna.

 

PARTNERSHIP