1. Articles     →
  2. Sebuah Kunjungan Toleransi Jelang Hari…

Sebuah Kunjungan Toleransi Jelang Hari Kemerdekaan

Dalam rangka perayaan hari kemerdekaan Indonesia yang ke 72, kami dari Wahid Foundation bersama sekelompok anak muda alumni pelatihan content creators for Pluralisme and tolerance Jakarta menggelar sebuah kunjungan kecil bertajuk “kunjungan toleransi”Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan sense of tolerance pada setiap peserta kegiatan.

Dalam kunjungan yang digelar sehari jelang hari kemerdekaan tersebut, terdapat dua lokasi yang kami tuju, yang pertama adalah Seminari Skolastikat Xaverian Jakarta dan yang kedua adalah Gereja Katedral Jakarta.

Di seminari, di dalam yang cukup luas, di atas tikar yang telah ditata rapi melingkar, kami terlibat dalam diskusi kecil dengan Rektor Xaverian Romo Vitus Rubianto SX beserta belasan pemuda yang merupakan frater atau calon Romo. Selama dua jam kami bersila sambil berbicang. Saking hangatnya, dua jam terasa lewat begitu saja.

Salah satu hal yang menjadi bahan pembicaraan di forum tersebut adalah fenomena meningkatnya intoleransi dan ujaran kebencian terutama di Jakarta yang tergambar di wajah media online dan media sosial. Menghadapi hal tersebut, terdapat dua hal yang dapat terus dilakukan; pertama meningkatkan intensitas kegiatan lintas iman. Kegiatan semacam ini diyakini dapat mereduksi dampak dari fenomena fitnah yang beredar di dunia maya.

Hal kedua yang bisa ditempuh adalah meningkatkan keterlibatan semua pihak untuk mengisi ceruk media online dengan postingan yang posotif dan mengajak pada perdamaian. Dalam rangka itu, WF mengundang romo dan para frater untuk terlibat dalam program pembuatan kontranarasi, sebagaimana yang telah dilakukan oleh WF dengan sindikasi media selama beberapa bulan terakhir.

Di Gereja Katedral

Usai makan siang bersama, tim WF undur diri dari Wisma Xaverian untuk melanjutkan kunjungan menuju Gereja Katedral Jakarta. Di gereja, salah seorang content creator WF beragama Katolik Melkior Saddek Oddo (Eki) menjadi pemandu kami. Ia mengawali dengan menceritakan kepada kami fungsi dan kedudukan Katedral bagi agama and umat Katolik.

Selanjutnya, ia juga membawakami ke dalam Katedral. Di dalamnya kami kami disuguhi pemandangan sebuah ruang luas dan tinggi, dengan kursi panjang yang berjajar. Ini pasti tempat orang duduk untuk berdoa, pikirku. Siang itu, tak terlalu banyak orang di dalam gereja. Tampak belasan orang saja di dalamnya yang sedang khusuk berdoa. Mereka seperti sedang menyatu dengan tuhannya.

Kami yang baru masuk berusaha memelankan suara saat berbincang, kuatir mengganggu mereka yang sedang beribadah. Di sana Eki mulanjutkan tugasnya memandu kami. Ia menceritakan satu persatu cerita di balik benda dan ornamen religius di dalam Gereja Katedral.

Salah satu hal yang menarik perhatian kami adalah belasan lukisan Yesus yang terpampang di sepanjang dinding. Menurut ceritanya, lukisan tersebut adalah cerita perjalanan bersejarah bagi agama Katolik sebab ia memotret perjuangan saat Yesus memanggul salib. Masing-masing lukisan menceritakan potongan kisah sejak Yesus dihukum, saat ia mulai mengangkat salib, saat ia terjatuh, saat ia bertemu dengan bunda Maria, hingga akhirnya Yesus meninggal. Tentu kisah yang diceritakan itu menyita perhatian kami.

Sebelum pulang, kami juga diajak mengunjungi Gua Maria yang terletak di samping Katedral. Saat itu, deretan kursi yang ada di depan gua tampak dipadati belasan orang, laki-laki dan perempuan yang sedang hikmat memanjatkan doa.

Dari kunjungan tersebut, kami semakin mendalami makna perbedaan di dalam beragama dan berkeyakinan. Kami semakin yakin bahwa agama apapun pada dasarnya menginginkan kedamaian dan cinta kasih. Sejalan dengan itu, kami semakin meyakini bahwa segala tindak kekerasan yang menyakiti orang lain bukan berasal dari agama apapun.

Ahmad Rozali

PARTNERSHIP