1. Artikel     →
  2. Sambutan Pendiri Wahid Foundation di…

Sambutan Pendiri Wahid Foundation di Forum NUSANTARA (GerakaN perempUan deSA membaNgun perdamaian melalui penguaTAn Sosial-Ekonomi dan ketahanan masyaRAkat)

Forum NUSANTARA (GerakaN perempUan deSA membaNgun perdamaian melalui penguaTAn Sosial-Ekonomi dan ketahanan masyaRAkat) dan

Peluncuran Panduan Pelaksanaan 9 Indikator Desa/Kelurahan Damai (Termasuk di dalamnya Sistem Deteksi dan Respon Dini dalam Mencegah Intoleransi dan Radikalisme).

Assalamualaikum Wr Wb.

 Kepada yang terhormat,

  1. Ibu Puan Maharani (Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan RI)
  2. Bapak Luhut Binsar Pandjaitan (Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman)
  3. Bapak Eko Putro Sandjojo (Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi)
  4. Bapak Ganjar Pranowo (Gubernur Jawa Tengah)

 Narasumber

  1. Andhika Chrisnayudanto (Direktur Regional Multilateral BNPT)
  2. Riri Khoriroh (Komnas Perempuan)

 Perwakilan Kedutaan

  • Perwakilan Kementerian/Lembaga
  • Perwakilan ormas keagamaan
  • Jaringan organisasi Masyarakat Sipil
  • Perwakilan
  • Rekan-rekan jurnalis
  • Seluruh peserta Peluncuran

Seperti penyakit, paparan gejala intoleransi mulai menyebar hingga ke desa-desa. Dihadapi berbagai profesi mulai dari warga biasa, guru, hingga aparatur sipil negara. Kasusnya beragam, mulai dari menyebar informasi palsu dan fitnah berbasis agama keyakinan, penolakan rumah ibadah dan simbol-simbol agama, termasuk kasus-kasus radikalisme dengan kekerasan. Kasus dan gejala ini muncul dalam beberapa hasil riset dan survei Wahid Foundation sejak beberapa tahun terakhir.  

Meningkatnya tantangan ini agaknya tidak harus kita pahami jika masyarakat kita makin alergi dengan perbedaan agama dan keyakinan. Padahal, sejauh ini kita bisa merasakan, bahkan  biasa mendengar pengakuan bahwa Indonesia memang lahir dengan beragam perbedaan agama, keyakinan, etnis, dan lain-lain. Di sejumlah tempat, di Indonesia, kita menyaksikan kearifan-kearifan tersebut. Sebagian wilayah atau desa justru mampu bertahan dan mengatasi tantangan tersebut.

Paparan intoleransi seharusnya dapat kita pahami salah satunya sebagai dampak dari penggunaan bahasa keagamaan dan perasaan ketidaksukaan, bahkan kebencian, terhadap mereka yang berbagai agama, keyakinan, etnis, status ekonomi, atau pandangan dan pilihan politik. Intoleransi seringkali lahir dari keberhasilan praktik-praktik pelintiran kebencian (hate spin) dan disinformasi. Ini bukan hanya gejala khas Indonesia, sebagian negara-negara lain mengalami hal serupa.

Untuk mengatasinya dibutuhkan strategi dan cara-cara, yang bukan saja kreatif tetapi juga, kolaboratif. Program Desa atau Kelurahan Damai Wahid Foundation ini merupakan program kolaboratif antara masyarakat sipil, khususnya kelompok perempuan, pemerintah, dan sektor swasta.

Program yang sudah menjangkau 2.121 perempuan dikembangkan melalui program ekonomi dan kewirausahaan di tingkat desa atau kelurahan. Di samping itu mereka juga mendapat pelatihan dan penguatan nilai-nilai toleransi dan perdamaian, bagaimana mengatasi hoax dan potensi konflik. Ringkasnya, Desa atau Kelurahan Damai ini kami harapkan bisa menjadi salah satu “obat penawar” tantangan intoleransi dan radikalisme.

Dari 30 desa atau kelurahan yang terjangkau program ini, saat ini kami fokus di sembilan desa yang telah mendaklarasikan sebagai Desa atau Kelurahan Damai:

Desa Tajur Halang dan Kelurahan Pengasinan Jawa Barat; Desa Nglinggi dan Desa Gemblegan Jawa Tengah; Desa Sidomulyo, Kelurahan Candirenggo, Desa Prancak, Desa Guluk-Guluk, dan Desa Payudan Dundang Jawa Timur.

Kami punya sembilan indikator untuk menyebut Desa atau Kelurahan Damai. Pertama, adanya komitmen untuk mewujudkan perdamaian. Kedua, adanya pendidikan dan penguatan nilai perdamaian dan kesetaraan gender. Ketiga, adanya praktik nilai-nilai persaudaraan dan toleransi dalam kehidupan warga. Keempat, adanya penguatan nilai dan norma kearifan lokal. Kelima, adanya Sistem Deteksi Dini pencegahan intoleransi dan radikalisme. Keenam, adanya sistem penanganan cepat, penanggulangan, pemulihan kekerasan. Ketujuh, adanya peran aktif perempuan di semua sektor masyarakat. Kedelapan, adanya pranata bersama yang mendapat mandat untuk memantau pelaksanaan Desa atau Kelurahan Damai. Kesembilan, adanya ruang sosial bersama antar warga masyarakat.

Di Desa Gemblegan kami melihat program ini cukup bisa dirasakan oleh masyarakat setempat, saat ini peran perempuan baik ditingkat RT/RW bahkan Desa semakin meningkan.  Pada September 2018 lalu kami bekerjasama dengan pemerintah desa setempat membuat dan meresmikan patung perdamaian perempuan jawa yang dihadiri 7000 masyarakat Klaten dan sekitarnya.

Di Desa Nglinggi, kami melihat program ini semakin memperkuat kohesi sosial di antara mereka. Sebagai sebuah desa, Nglinggi memiliki modal sosial yang kuat. Penduduknya terdiri dari latar belakang agama dan keyakinan yang berbeda. Kerjasama tokoh agama di kampung ini juga kuat dan menjadi modal penting. Uniknya, warga juga tidak mempersoalkan latar belakang agama kepala desa yang berbeda dengan agama yang umum dipeluk warganya.

Kesembilan Indikator Desa atau Kelurahan Damai tersebut merupakan satu kesatuan. Dalam implementasinya tentu saja indikator ini dapat dilakukan secara bertahap dan saling memperkuat tergantung konteks lokal. Panduan Implementasi 9 Indikator Desa/Kelurahan Damai yang diluncurkan hari ini berisi dokumen dan informasi yang dibutuhkan bagaimana program ini dikembangkan, dijalankan, dan diukur. Buku ini dihasilkan dari pengalaman selama dua tahun terakhir sehingga memudahkan untuk bisa diterapkan di daerah-daerah lain dengan berbagai penyesuaian berdasarkan kebutuhan dan konteks lokal.

Melalui forum berharga ini kami ingin mengucapkan berterima kasih kepada UN Women yang menjadi mitra penting dalam program yang kami sebut WISE, Women Participation for Inclusive Society.  Juga kepada Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi; Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak; Kementrian Dalam Negeri; Kementrian Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan; Komnas Perempuan; dan BNPT. Apresiasi yang setinggi-tingginya juga kami sampaikan kepada pemilik dan pelaku program ini: kelompok ibu-ibu dan bapak-bapak dan pemerintah lokal di sembilan desa. Mereka sesungguhnya inspirator kami. []

Wahid Foundation berikhtiar mewujudkan Program Perempuan Berdaya Komunitas Damai.

Zannuba Ariffah Chafsoh (Yenny Wahid)

PARTNERSHIP