1. Artikel     →
  2. SMAN 2 Surabaya; Sekolah Damai…

SMAN 2 Surabaya; Sekolah Damai Nyalakan Suluh Toleransi dan Kolaborasi antar Warga Sekolah

Siapa yang menyangka bahwa bangunan tua nan megah yang kini berfungsi sebagai tempat belajar para murid SMAN 2 Surabaya ini, dahulunya merupakan bangunan sekolah bersejarah bernama Hoogere Burgerschool Soerabaia (HBS) yang hanya diperuntukkan bagi kalangan tertentu, seperti Sinyo dan Nonik Belanda, serta pemuda pribumi yang berasal dari kalangan bangsawan atau pejabat. Beruntung karena kita hidup di zaman modern ini. Zaman dimana sekolah-sekolah tidak mendiskriminasikan calon peserta didiknya. Siapapun berhak mengenyam pendidikan tak peduli apa latar belakang suku, agama, ras dan ekonomi yang melekat pada dirinya.

Jika pendidikan dimaknai sebagai proses mendewasakan kecakapan intelektual, mental, dan sosial suatu generasi, maka sudah sewajarnya institusi pendidikan pada level tingkat menengah dapat berperan serta mewujudkan kehidupan yang rukun damai dan tanpa diskriminasi. Sederhananya, pendidikan ditantang atau bahkan harus menyatakan siap mencetak generasi yang melek akan kondisi masyarakat yang heterogen. Tantangan inilah yang saat ini tengah berusaha dimenangkan oleh dua puluh Sekolah Damai di Indonesia, termasuk oleh SMAN 2 Surabaya yang baru-baru ini dinyatakan masuk dalam 10 besar perolehan UNBK nilai terbaik tingkat propinsi 2019 untuk jurusan IPA dan IPS.

Merespon tantangan tersebut, sekolah yang berlokasi di Jl. Wijaya Kusuma No.48 ini aktif memacu dirinya untuk mengembangkan nilai-nilai religius, nasionalis, dan menghargai keberagaman sebagai nafas yang menghidupkan program budaya Sekolah Damai di lingkungan sekolahnya. Oleh karena itu, langkah awal yang ditempuh kepala sekolah, Tatik Kustini, ialah membentuk Satuan Tugas (Satgas) Sekolah Damai yang terdiri atas unsur siswa dan guru dari berbagai agama. Satgas ini dikepalai oleh Pembina Rohani Islam dan bertanggung jawab pada kepala sekolah.

Tak hanya itu, pada Mei 2018 lalu, Tatik pun merumuskan Pakta Integritas Damai yang ditandatangani oleh seluruh stakeholders sekolah-mulai dari komite sekolah hingga pegawai administrasi. Ia pun selalu menekankan warga sekolah untuk menghargai praktik religiusitas dan keberagaman yang ada di lingkungan sekolah.

“Kami haruskan siswa salat Zuhur dan Asar. Zuhur saya buat istirahat satu jam, dari pukul 11.30–13.30 karena masjid kami gak cukup menampung 1051 siswa. Sesi pertama yang jamaah putra dulu, kedua putri yang diimami oleh bapak guru agama. Ini kami lakukan berdasarkan kesepakatan, terutama contoh, saya apapun saat di sekolah, kalau sudah azan saya harus ikut berjamaah, kalau ada tamu pun saya tinggal,” ungkap Tatik saat berbagi pengalamannya menjalankan budaya Sekolah Damai dalam workshop penetapan indikator sekolah damai dan kebijakan sekolah di Hotel Harris, Jakarta (16/11/2018).

Pada mulanya, praktik salat berjamaah yang dijalankan oleh Tatik memang terkesan sedikit memaksa, tapi toh niatnya baik dan cara ini akhirnya berhasil mendorong seluruh warga sekolah menjadi terbiasa bisa.

Kepala sekolah SMAN 2 Surabaya ini juga mengakui adanya perubahan positif yang terjadi setelah progam Sekolah Damai merasuki kehidupan sekolah. Pertama, program ini mampu mendorong terbukanya ruang kolaborasi antar peserta didik lintas agama dalam agenda keagamaan dan ekstrakurikuler di sekolah.

Ini umat Kristiani saat panitia bersama di Idul Kurban, memasak makanan bersama-sama untuk disantap bersama, baik yang muslim maupun non-muslim. Kemarin saat pengumpulan kambing dan sapi, luar biasa orang tua siswa ada yang menyumbang sapi limousine. Jadi alhamdulillah kepeduliannya luar biasa,pungkasnya.

Selain itu, di wilayah pengelolaan kegiatan siswa akses telah diberikan pada peserta didik minoritas dalam pembuatan keputusan. Majelis Perwakilan Kelas (MPK) kini dipimpin oleh siswa dengan identitas minoritas, beragama Protestan. Pimpinan MPK ini diangkat melalui pemilihan langsung oleh komunitas sekolah. Hal ini menunjukkan adanya kemauan melakukan kolaborasi antar warga sekolah tanpa pengecualian identitas keagamaan.

Kedua, program ini juga turut andil dalam merubah tradisi sekolah yang terkesan begitu eksklusif di mata sebagian peserta didik. Tradisi ini berkaitan dengan pemberian apresiasi kepada siswa-siswi teladan yang rutin dilaksanakan setiap tahun. Berkat program Sekolah Damai akhirnya 55 siswa Protestan, 29 siswa Katolik, 5 siswa Hindu, dan 1 siswa Khonghucu dapat bersaing secara adil bersama 960 siswa beragama Islam lainnya dalam memperebutkan predikat siswa-siswi teladan.

“Penghargaan wisudawan terbaik, ahlak mulia dsb. Nah untuk akhlak mulia kan biasanya muslim, tapi tahun 2018 kita juga berikan penghargaan ke agama lain yang memang bener-bener memenuhi kriteria menurut tim ketertiban,” terang Tatik.

Terakhir, pada level budaya kelas, sekolah yang memiliki visi membangun generasi cerdas yang berakarakter, religius, dan berwawasan global serta berbudaya lingkungan ini telah berinovasi dengan mengembangkan materi kontrol diri untuk siswa kelas X. Setiap hari Senin dan Kamis, selama 45 menit, wali kelas memberikan wawasan dan trik untuk membentengi diri siswa atas berbagai tantangan kehidupan remaja, seperti kenakalan dan radikalisme.

Demikian beberapa pengalaman menarik yang mewarnai perjalanan dari sekolah yang pernah meraih juara debat Pendidikan Agama Islam (PAI) tingkat provinsi 2019 ketika menjalankan program Sekolah Damai. Pengalaman ini membuktikan bahwa program Sekolah Damai ternyata sanggup menyalakan suluh toleransi dan kolaborasi antar warga sekolah. [Saiful Haq]

PARTNERSHIP