1. Artikel     →
  2. Potret Pelatihan Content Creator Wahid…

Potret Pelatihan Content Creator Wahid Foundation di Tasikmalaya

Wahid Foundation, Tasikmalaya, Wahid Foundation menggelar program pendampingan lanjutan untuk para alumni pelatihan content creator di Tasikmalaya di Kantor Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) NU Kota Tasikmalaya, pada Kamis, 8 Juni 2017.

Kegiatan yang merupakan tindak-lanjut dari kegiatan Wahid Foundation di Bogor pada tanggal 25-27 April yang lalu ini dihadiri oleh hampir seluruh peserta pekatihan. Para peserta yang hadir selanjutnya menjadi “duta” kampanye pluralisme dan toleransi di Kota Tasikmalaya.

Keseluruhan peserta yang hadir yakni Sindi Aditya Ningsing, Sumiati, Risa Nur Azizah, Muslim Nurdin, Ajat Sudrajat, Sandi Mukhlis dan M. Ridwan mendapatkan materi-materi dasar tentang pembuatan conten video, menulis berita dan opini. Ketika materi pertama disajikan, peserta benar-benar mendapatkan ilmu baru, hanya Ajat dan Sindi yang “sedikit” mempunyai interes lebih, mengingat kedua peserta ini bermaksud fokus kepada pembuatan video dan game. Walau demikian, penyajian dari pemateri disimak dan diikuti secara serius dan tuntas oleh semua peserta.

Materi pertama, dasar-dasar pembuatan film atau video “pendek”, disajikan oleh Erni Agustin Rahayu, yang memaparkan pembuatan film dan kaitannya dengan kampanye pluralisme dan toleransi. Erni menjelaskan dari hal yang paling mendasar mulai arti film. Disamping itu, ia menjelaskan kelebihan dan kekurangan film sebagai media penyampaian pesan. Ia pun membawa pembahasannya pada seputar isu pluralisme dan toleransi yang sekarang ini dirasa mulai memudar di tengah masyarakat.

“Sedikit atau banyak, film-film pendek atau video di media-sosial punya pengaruh yang besar, terutama bagi anak muda,” tandas Erni. “Hanya sayang, terkadang kita melihat sebagian orang suka mengedit atau membuat film secara tidak utuh sehingga menyebabkan kegaduhan-informasi. Sebagai misal, kasus Buni Yani kemarin itu,” ujar Erni dengan sedit tertawa. Ia pun menjelaskan kejujuran dalam membuat film atau video adalah utama, sebagaimana prinsip pertama dalam karakter manusia.

Selepas penyajian materi, Erni Agustin yang dibantu oleh tim kreatornya di IniTasik.com memberikan kesempatann pada peserta untuk berdiskusi atau konsultasi seputar pembuatan video. Usai materi Erni, tim kreator IniTasik.com dan para peserta membuat grup komunikasi melalui whatsapp grup.  

Pemateri kedua, M. Ruslan Hakim, memaparkan dasar-dasar jurnalistik dan penulisan opini. Tema besar yang diangkat dalam pemaparannya adalah membedakan penulisan opini dan berita. Ia juga menjelaskan bahwa di media-online, informasi begitu cepat bahwa sampai kita susah membedakan mana informasi hoax dan mana yang tidak-hoax.

“Saya pikir, apa yang dilakukan Wahid Foundation dengan kegiatan seperti ini agak terlambat,” ujarnya. “Kaum yang tak ingin Indonesia aman, nampaknya sudah sukses memanfaatkan media-online untuk kampanye pemikiran yang intoleransi. Walau begitu, keterlambatan seharusnya menjadi pemicu kita semua untuk bekerja lebih keras lagi,” lanjutnya.

Adapun tentang penulisan opini, ia menjelaskan bahwa keluasan wawasan dan ilmu yang diungkapkan adalah modal terpenting dalam penulisan opini. Menurut dia, seseorang dengan wawasan sempit, sementara ilmu kita tak punya. “Itu sebabnya, kita bisa menilai opini seseorang dari tulisannya, apakah luas atau tidak wawasannya,” Papar Ruslan.

“Jadi, untuk bicara Pluralisme dan Toleransi, sekalipun ruh dari kedua tema itu sudah kuat di teman-teman, tetap saja jika teman-teman hendak beropini maka harus terus memperkaya wawasan tentang Pluralisme dan Toleransi tersebut.”

Pemaparan M. Ruslan Hakim nampaknya sanggup membuat susana forum menjadi hangat, peserta pun tak enggan untuk bertanya seputar berita dan opini. Tampak pula terjadi tanya jawab antara pembicara dan peserta.

Salah satu pertanyaan dari Sumiati, tentang cara membedakan berita hoax atau berita yang riil. Menanggapi itu Ruslan menjawab bahwa dengan beberapa tips: pertama dengan memperhatikan sumbernya pemberitaan. Menirut dia, kredibilitas media adalah salah satu hal yang penting diketahui, karena dalam media terdapat verifikasi pembenaran kelompok media dalam pemberitaan. Biasanya, berita valid bersumber dari media yang sudah popular dengan jejaring yang terstruktur, berbeda dengan media yang belum terbiasa didengar dan tidak punya integritas. “Poin pentingnya harus jadi pembaca yang cerdas,” ujarnya.

Kegiatan Pendampingan Content Creator di Kota Tasikmalaya disi oleh kedua pemateri di atas, dan acara belangsung dari jam 13.00 s.d 17.30 WIB. Selepas acara, dilanjutkan dengan berbuka puasa bersama, diikuti juga oleh beberapa pengurus Lakpesdam NU Kota Tasikmalaya.

Penulis: Fauz Noor

Editor: Rozali

PARTNERSHIP