1. Artikel     →
  2. Perempuan dan Perlawanan Terhadap Kekerasan

Perempuan dan Perlawanan Terhadap Kekerasan

ULYA FIKRIYATI

Membincang tentang kekerasan menjadi sebuah hal penting di tengah maraknya konflik dan intoleransi di berbagai belahan dunia. Dalam banyak kasus, perempuan seringkali menjadi objek kekerasan. Dalam laporan tahunan 2017 Komnas Perempuan, terjadi 259.150 kasus kekerasan. Sebanyak 245.548 kasus diperoleh dari 358 Pengadilan Agama dan 13.602 kasus yang ditangani oleh 233 lembaga mitra pengadaan layanan yang tersebar di 34 Provinsi seluruh Indonesia.

Dilaporkan UN Woman, 35% perempuan pernah mengalami kekerasan psikis dan atau kekerasan seksual, bahkan di beberapa negara tertentu persentase tersebut mencapai angka 70%. Dari seluruh jumlah tersebut, tidak lebih dari 40% saja yang melaporkan atau meminta pertolongan kepada pihak berwajib. Di sisi lain, Jennifer F. Klot (2007) mencatat bahwa pada 2005, peran perempuan dalam membangun perdamaian telah diafirmasi oleh banyak pemimpin dunia. Hal tersebut membuktikan bahwa banyak perempuan di berbagai belahan dunia yang berusaha untuk “menyelesaikan” kekerasan.

Di wilayah Syria, kisah seorang mufasir perempuan dapat menjadi salah satu bukti perlawanan tersebut. Dia bernama Hannan Lahham, lahir pada 1943. Dari berbagai tulisan yang membahas tentangnya dan juga wawancara tertulis yang penulis lakukan, berikut akan dipaparkan sekelumit kisahnya.

Lahham terlahir dari keluarga yang keras dan terbiasa dengan kekerasan. Hal tersebut ditambah dengan berbagai kekerasan yang muncul dalam konflik panjang Syria. Sebuah mimpi buruk yang mengawali masa kecil Lahham. Ia  berpikir ada sumbu kesalahan mental dari setiap kekerasan di sekelilingnya. Lahham remaja beruntung dapat menikmati kuliah di Fakultas Satra Arab Universitas Damaskus. Di tengah-tengah masa studi, Lahham dinikahkan oleh keluarganya.

Beban dan tugas rumah tangga membuat Lahham terpaksa meninggalkan Fakultas tercintanya. Hal tersebut tidak lantas memutus hubungan Lahham dengan pengetahuan. Hati kecil Lahham terus mendorongnya belajar, mengejar ketertinggalan intelektualnya dengan mengikut kajian-kajian ilmiah non formal dan melahap berbagai buku yang direkomendasikan oleh guru-gurunya. Belajar secara langsung kepada beberapa pemikir besar Syria membuat Lahham sadar akan pentingnya literasi bagi perempuan. Lahham juga sempat menjadi dosen tamu di Universitas King Abdul Aziz selama dua tahun, ketika tinggal beberapa waktu di Saudi Arabia.

Sebagai perempuan di wilayah Timur Tengah, karir kepenulisan Lahham bukan tanpa rintangan. Setelah buku tafsir pertamanya terbit, seorang kolega Lahham “memintanya” untuk berhenti. Baginya, seorang perempuan tidak sepatutnya menulis tafsir Alquran dan cukup hanya dengan menulis novel atau buku-buku ringan. Lahham sempat surut karena teguran tersebut, namun Jaudat Sa’id—intelektual Muslim yang konsen dalam gerakan nirkekerasan asal Syiria—terus memompakan semangat hingga meneguhkan Lahham untuk melanjutkan proyek penulisan tafsirnya.

Tafsir-tafsir yang ditulis Lahham konsisten dalam mengusung ide nirkekerasan dan ihsan sebagai solusi penyelesaian konflik kekerasan. Sebuah aliran tafsir anti-mainstream yang lahir di tengah-tengah wilayah konflik bersenjata. Di saat yang sama, fokus Lahham pada gerakan melawan kekerasan tanpa kekerasan menjadi inspirasi untuk mendirikan sekolah dasar dan sekolah anak usia dini yang menekankan gagasan tersebut.

Bagi Lahham, “terpapar oleh kekerasan, bukan alasan untuk mewariskan bibit kekerasan yang sama kepada generasi muda”. Generasi muda harus dididik dan dibiasakan untuk menghadapi dan melawan kekerasan tanpa kekerasan. Ada banyak cara untuk melawan kekerasan, di antaranya melawan kekerasan dengan literasi dan pengetahuan. Lahham sadar bahwa kekerasan tidak bisa dilawan dengan kekerasan. Karena, sebagaimana juga diyakini Dom Helder Camara (2000), kekerasan yang dilawan dengan kekerasan dalam banyak kasus akan melahirkan spiral kekerasan.

Kisah singkat Lahham setidaknya memberikan kita beberapa poin besar terkait perlawanan perempuan atas kekerasan: Pertama, kapasitas seorang perempuan sebagai perempuan tidak pernah menghalangi seseorang untuk melakukan perlawanan terhadap kekerasan. Perempuan diciptakan untuk memiliki peran yang sama dalam pembentukan peradaban dan perdamaian dunia. Ketika ibu Maryam mengadu kepada Allah tentang “kekecewaannya” ketika melahirkan seorang perempuan, justru Allah menghiburnya, dan menyadarkan bahwa Dia menerima Maryam dengan penerimaan yang baik (fataqabbalah? Rabbuh? bi qab?lin ?asanin). “Penerimaan yang baik” menjadi bukti bahwa di mata agama, baik perempuan ataupun laki-laki dipandang setara atau  sederajat.

Kedua, deteksi awal keberadaan kekerasan adalah langkah utama yang harus dilakukan siapapun. Seorang perempuan tidak bisa melawan kekerasan ketika tidak menyadari sebuah kekerasan sebagai kekerasan. Menurut Galtung, tumpulnya sense seseorang terhadap kekerasan dalam banyak kasus dibentuk oleh kekerasan budaya. Sebuah kekerasan akan dianggap wajar, dan melawannya menjadi sesuatu yang tabu. Hal ini dapat diantisipasi dengan menyadarkan seseorang bahwa apa yang dilakukannya adalah sebuah kekerasan. Misi “penyadaran” tersebut merupakan salah satu lingkup penting yang membutuhkan campur tangan perempuan untuk melawan kekerasan. Laurel Stone dalam The Guardian (2014) menyebutkan bahwa keturutsertaan perempuan dalam peacebuilding akan meningkatkan keberhasilan proses tersebut hingga 24%.

Ketiga, melawan kekerasan dengan nirkekerasan merupakan pilihan lain dalam penyelesaian konflik. Menurut penelitian Lamude sebagaimana dikutip oleh Karima Merchant (2012), perempuan secara psikologis lebih siap untuk melakukan langkah tersebut. Psikologi perempuan lebih cenderung menggunakan “sof tactic” dalam memengaruhi seseorang dan menyelesaikan permasalahan. Hal tersebut akan menjadi modal utama dalam melawan kekerasan pada ranah “akar rumput”. Perempuan juga dapat menggunakan sisi intelektualnya untuk melawan kekerasan tanpa kekerasan. Pembacaan harmonis atas teks-teks keagamaan—sebagaimana yang dilakukan oleh Lahham—merupakan salah satu contohnya.

Secara faktual, banyak perempuan di dunia yang telah memulai langkahnya untuk melawan kekerasan, meski tidak sedikit yang enggan untuk mencobanya. Bagi kelompok kedua, penulis ingin menekankan bahwa melawan kekerasan adalah kewajiban bersama baik laki-laki maupun perempuan. Setiap perempuan perlu bertanya tentang kemauannya untuk melawan kekerasan sesuai kemampuannya. Di saat yang sama, kesediaan laki-laki untuk bergandeng-tangan dengan perempuan dalam menyelesaikan kekerasan merupakan sebuah kebutuhan.

 

Sumber gambar: www.kompasiana.com/anita.putri/

 

Ulya Fikriyati, Dosen Institut Ilmu Keislaman Annuqayah (INSTIKA) Guluk Guluk Sumenep, e-mail: ulya.fikriyati@gmail.com)

PARTNERSHIP