1. Artikel     →
  2. Perempuan Dan Peradaban Damai

Perempuan Dan Peradaban Damai

 

Dr. Mutiara Andalas, SJ

 

Kaum perempuan adalah pejuang radikal peradaban damai. Hidup sebagai kelompok terdampak di wilayah konflik sebagai penyintas, perempuan memperjuangkan peradaban damai sebagai budaya tandingan terhadap ‘peradaban’ konflik yang memiliki credosi vis pacem, para bellum.’ Dokumentasi sejarah sejauh ini baru mencatat sebagian kecil dari nama-nama mereka berikut keterlibatannya dalam membangun peradaban damai. Narasi-narasi perempuan memperjuangkan peradaban damai di wilayah-wilayah konflik berdarah pantas mendapatkan perhatian. 

Untuk memahami secara komprehensif radikalitas gerakan kaum perempuan untuk perdamaian di wilayah-wilayah konflik, saya memulainya dengan mensketsakan anatomi konflik dan pencarian perempuan akan metafor perdamaian. Saya mengambil rujukan terutama dari kesaksian Rigoberta Menchú, seorang perempuan suku Indian Quiché yang memperjuangkan peradaban damai di Guatelamala. Perempuan bertransformasi dari korban menjadi penyintas yang meneruskan kampanye untuk perdamaian yang berkelanjutan di wilayah pascakonflik.

 

Anatomi Konflik

Tubuh perempuan rentan terhadap serangan kekerasan pada masa konflik. Agresivitas kekerasan membilurkan tubuh perempuan. Konflik melukai, bahkan merenggut kemanusiaan mereka. Konflik memberangus lokasi kehidupan. Perempuan menderita migrasi paksa dari karena kerawanan tinggal di lokasi kehidupan yang berubah menjadi zona konflik. Keluarga seringkali terpisah paksa ketika berusaha menyelamatkan diri dalam pengungsian. Perempuan menjadi korban langsung, sekurang-kurangnya tidak langsung, dari konflik berdarah.

Perjumpaan dengan korban, apalagi pengalaman langsung perempuan di tengah zona konflik mengerakkan empati terhadap penderitaan mereka. Alih-alih simpati sesaat,  tragedi mengaruniakan pemahaman tentang anatomi konflik berikut pelaku. Konflik pada kedalamannya, destruktif terhadap kehidupan. Konflik merentankan kehidupan anak, lansia, dan perempuan yang seharusnya terkecualikan dari dampaknya. Korban menderita malnutrisi, tercerai dari keluarga, dan meninggalkan lokasi kehidupan mereka dalam pengungsian.

Pihak-pihak yang berkonflik berpegang pada keyakinan militeristik  “jika kalian menginginkan perdamaian, siapkan perang” (si vis pacem, para bellum) yang menyulut, bahkan mengekalkan, syahwat konflik. Penganut mempropagandakan credo militeristik ini sebagai yang normatif dalam kehidupan bersama. Konflik berangsur menjadi kelumrahan, bahkan keniscayaan. Sebaliknya, perdamaian berangsur menjadi ketidaklaziman, bahkan kemustahilan historis. Sejarah kemudian mengkerut menjadi dokumentasi konflik berdarah manusia.  

 

Metafor Perdamaian

Konflik meninggalkan trauma pada tubuh personal, sosial, dan ekologis. Alih-alih traumatik, perempuan menyeruak sebagai penyintas pascakonflik. “Pengalaman personal saya,” menyitir Rigoberta Menchú, “merupakan  realitas sosial rakyat miskin Guatemala.” Sebagaimana kesaksian aktivis perempuan dari suku Indian Quiché ini, saat penghargaan Nobel Perdamaian pada 1992, “Betapa saya berharap semua keluarga hidup dan bersama saya sekarang. Karena kehidupan itu damai. Saya merindukan kehidupan dan perdamaian."

Kehidupan dan perdamaian bertautan. Perempuan mensketsakan perdamaian menggunakan metafor yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Perdamaian menghadirkan kehidupan bagi keluarga. Perdamaian membuka jalan bagi mereka kembali ke rumah dari lokasi pengungsian. Ia tercipta ketika keluarga, bahkan komunitas, yang tercerai berai berkumpul kembali pascakonflik. Sebagaimana dalam I, Rigoberta Menchú, penderitaan, kemiskinan, malnutrisi, eksploitasi dan diskriminasi rasial meradikalkan perjuangan untuk perdamaian.

 

Peradaban Damai

Perempuan mengemuka sebagai simbol perdamaian. Konflik pertama-tama destruktif terhadap kehidupan perempuan. Tragedi kemudian formatif terhadap perempuan sebagai penyintas. Perempuan melawan bentuk-bentuk kekuasaan yang memproduksi dan mengekalkan konflik. Mereka menggerakkan masyarakat untuk memperjuangkan bersama perdamaian yang berkelanjutan pascakonflik. Ketika masyarakat masih apatis terhadap isu perdamaian, perempuan membentuk jaringan untuk bergerilya melawan rezim yang mengorkestrasi konflik.

Berakhirnya konflik jauh dari serta merta melapangkan ruang kehidupan untuk peradaban damai. Penganut ‘peradaban’ konflik masih berusaha mengekalkan credo militeristik pascakonflik. Jejaring perempuan memiliki kewajiban yang setara pentingnya untuk menyebarkan peradaban damai ke seluruh lapisan masyarakat. Sebagaimana gerilya perempuan dalam mengakhiri konflik membutuhkan kegigihan, demikian pula perjuangan untuk menanamkan peradaban damai yang berkelanjutan memerlukan kesetiaan.

Perempuan di wilayah-wilayah konflik menggendong peradaban damai pada punggungnya. Mereka merajut kembali pertautan antara kehidupan dan perdamaian yang rusak akibat konflik. Sebagaimana kesaksian Rigoberta Menchú, perdamaian menaut erat dengan kualitas kehidupan. Sebaliknya, konflik memerosotkan kualitas kehidupan pada level personal, sosial, dan ekologis. Perdamaian merupakan budaya tandingan (counterculture) terhadap metamorfose baru dari credo militeristik “si vis pacem, para bellum” pada zaman ini.

 

 

Dr. Mutiara Andalas, SJ, Dosen Teologi Sosial di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

Email: mutiaraandalas@usd.ac.id

 

PARTNERSHIP