1. Artikel     →
  2. Nasida Ria Jawaban Kritis dari…

Nasida Ria Jawaban Kritis dari Kaum Perempuan Indonesia

NURDIANI LATIFAH

Kasus bom bunuh diri semakin menggila setiap tahunnya. Bahkan, kasus bom bunuh diri tidak hanya terjadi pada kaum laki-laki. Ada banyak perempuan yang terlibat dalam kasus bunuh diri tersebut. Salah satunya kejadian yang terjadu di Palestina-Israel.

Posisi perempuan Palestina sering terlewatkan dalam mengkaji penderitaan bangsa Palestina. Di sisi lain, perlu menempatkan posisi perempuan Palestina pelaku bom bunuh diri di antara berbagai grup yang melibatkan perempuan dalam perlawanan bersenjatanya.  Menurut data yang diambil Chicago Project on Suicide Terrorism (1980 – 2003) mengkompilasi data serangan bunuh diri sebagai berikut:

 

Nama Negara

Serangan Bunuh Diri

Jumlah Pelaku Perempuan

Persentase Pelaku Perempuan

Kurdi ( PKK, Parti Karkaren Kurdistan)

10

71%

Chechnya

14

60%

Macan Tamil

23

20%

Lebanon

6

16%

Palestina

6

5%

Al-Qaidah

0

0%

 

Dalam tabel tersebut terlihat bahwa proporsisi perempuan Palestina lebih kecil dibandingkan dengan berbagai kelompok perlawanan penduduk seperti Chechnya ataupun di Kurdistan (Turki) dimana lebih dari separuhnya serangan bunuh diri dilakukan oleh kaum perempuan.

Di Palestina hanya orang-orang yang melatih perempuan ini untuk menghadapi kematian. Perbedaan antara laki-laki  dan perempuan dalam sebuah masyarakat yang kental dengan fundamentalisme dan sebuah budaya dengan standar ganda itu tidaklah lenyap. Bahkan dalam konsep kesyahidan yang luar biasa itu pun perbedaan tersebut masih mencolok.

Sejak awal, kaum perempuan di sana paham bahwa kaum laki-laki tidak mau mengakui kalau mereka memiliki derajat yang setara, atau menghargai mereka sebagai pejuang dengan kedudukan yang sama. Sampai meteka meraih surga yang dijanjikan dan diterima di sisi Allah. Namun, setelah itu mereka mati. Tidak ada seorang perempuan pun yang bisa bersaksi bahwa janji-janji telah dipenuhi di akhirat.

Di tahun 2001, gadis-gadis kecil di sekolah-sekolah Palestina ternyata sama dengan murid laki-lakinya. Mereka semua berkata sangat ingin pelaku bom bunuh diri. Mereka berpikir bahwa kematian semcam itu merupakan kemuliaan tertinggi yang bisa mereka peroleh dalam kehidupan ini. Obsesi untuk menjadi martir yang kian menyebar luas berkaitan erat dengan penghinaan yang terjadi dalam masyarkat terjajah, dan keputusasaan terhadap tatanan sosial yang sepenuhnya mandek - bukan hanya terjadi di Tepi barat dan jalur Gaza.

Keadaan ini menyebar di kalangan laki-laki dan perempuan di seluruh Dunia Arab tidak terkecuali di Irak. Di sini perang dilakukan Amarika nampak seperti perang pembebasan rakyat Irak. Begitu cepat berubah menjadi konfrontasi yang sangat sulit dan nampaknya tanpa akhir. Dengan orang-orang yang putus asa dan kejam. Kecintaan rakyat terhadap kematian yang mereka tumbuhkan berkembang dan tetap akan hidup. Begitu pula penduduk yang terjadi di sana.

Saat ini perempuan Palestina yang tidak menikah hidup di bawah serangkaian aliran sosial dan agama yang ketat: jika berpendidikan terlalu tinggi, ia dianggap abnormal. Jika memandangi laki-laki, terancam dikucilkan. Jika menolak untuk dinikahkan, ia dianggap akan lepas kendali. Jika tidur dengan laki-laki, khususnya jika hamil ia adalah aib bagi keluarga  dan bisa mati di tangan kerabat laki-lakinya.

Di Palestina perempuan yang melakukan bom bunuh diri adalah mereka yang bernasib selalu dipaksa oleh aturan-aturan agama, masyarakat dan keluarga, untuk menikah dengan lelaki yang dipilihkan oleh orangtua mereka. Mereka adalah kaum perempuan yang memutuskan bahwa mereka lebih baik dipenjara atau mati sebagai pahlawan seperti laki-laki daripada menjalani perkawinan yang tidak dilandasi cinta dan kerelaan.

Kaum perempuan lain yang bermasalah dengan aturan masyarkat yang menyesakan juga lebih memilih mati daripada harus hidup dengan kehinaan dan aib dalam budaya mereka sendiri. Anehnya, mereka ini sepertinya merasa lebih aman jika berada di dalam penjara Israel karena tahu bahwa kerabat laki-laki mereka tidak akan bisa membunuh mereka karena telah membuat malu keluarga.

Berlawanan dengan kebijakan politik yang diberlakukan itu, berperannya kaum perempuan dalam Intifadah yang sekarang ini serta merta mengubah status mereka dari penonton pastif menjadi aktif dalam perjuangan melawan pendudukan Israel. Tidak pula mendatangkan manfaat apapun untuk meningkatkan status mereka dalam masyarakat mereka sendiri.

Keadaan tersebut berbeda dengan Indonesia. Masih ingat tentang 9 orang perempuan yang berasal dari Semarang? Kelompok musik bernama Nasida Ria yang dibentuk pada 1975 itu telah mengingatkan terhadap perdamaian. Pada 1982 menciptakan lagu “Perdamaian”. Sebuah kritik sosial kepada dunia dari kelompok perempuan. Bahkan, lagu tersebut dipopulerkan oleh grup band Gigi dengan aransemen musik yang berbeda.

Artinya, jika hari ini kelompok perempuan terjebak pada aksi radikal, hal ini telah mencederai kaum perempuan Indonesia yang sudah menyerukan perdamaian sejak lama. Kaum perempuan Indonesia sudah berpikir jika membawa dampak negatif. Selain itu, lagu tersebut sebagai penegasan bahwa perempuan Indonesia sangat konsen terhadap perdamaian.

Lagu tersebut harusnya membawa spirit baru dan perjuangan serta langkah gerak perempuan. Jangan sampai para perempuan masuk dalam belenggu perpecahan. Jika ada perempuan yang masuk perpecah-belahan, hal ini menjadi kemunduran dari gerakan perempuan Indonesia. Bahkan, mencederai wajah-wajah perempuan pada umumnya. [ ]

 

Nurdiani Latifah, Pegiat lintas agama, Jaringan Kerja Antar Umat Beragama (JAKATARUB)

PARTNERSHIP