1. Artikel     →
  2. Melibatkan Ibu-Ibu Melawan Radikalisme

Melibatkan Ibu-Ibu Melawan Radikalisme

WAHID FOUNDATION, JAKARTA -- Peran penting seorang ibu rumah tangga di dalam keluarga tidak dapat disangsikan. Di dalam satu waktu ia dapat menjelma menjadi seorang ibu dari anak(-anaknya), yang secara otomatis memiliki tanggung jawab menyediakan kebutuhan anak, dan di saat yang bersamaan ia pula berperan sebagai seorang istri yang memiliki tanggung jawab tertentu di hadapan suami.

Dalam tata kelola organisasi terkecil masayarakat ini, seorang ibu rumah tangga juga tak kalah sibuknya. Sebab dalam tradisi masyarakat Indonesia pada umumnya, seorang ibu rumah tangga berperan sebagai manajer rumah tangga yang mengorganisir berjalannya srbuah rumah tangga mulai dari kebutuhan yang bersifat bulanan, seperti cicilan rumah, listrik, kebutuhan belanja bulanan, atau yang berifat harian seperti menu masakan, dst.

Namun, dalam konteks tingginya fenomena radikalisme di Indonesia, dapatkah seorang ibu rumah tangga mengambil peran di level keluarga? Jika iya, lantas bagaimana cara agar seorang ibu rumah tangga dapat memerankan peran tersebut dengan baik? Melalui jawaban pertanyaan itu, hasil liputan ini akan mencoba mengidentifikasi peran penting ibu rumah tangga dalam menanggulangi radikalisme di Indonesia dan apa saja yang dapat dilakukan oleh ibu rumah tangga untuk itu.

Menurut Imam Besar Masjid Istiqlal KH. Nasarudin Umar, penyebarluasan paham radikal terorisme saat ini telah masuk ke berbagai lembaga, baik lembaga pendidikan, organisasi kemasyarakatan, hingga organisasi yang paling kecil, yakni keluarga.

Dalam skema penyebaran bibit radikalisme, persemaian tersebut dapat “diamputasi” di level keluarga. Caranya adalah dengan meningkatkan peran perempuan sebagai ibu di dalam rumah tangga, misalnya dengan membekali ibu rumah tangga dengan pemahaman nilai kebangsaan. “Jadi, ketika anak-anak mendapatkan materi yang berlawanan dengan nilai kebangsaan, mereka sudah memiliki penangkal,” tuturnya.

Metode peningkatan kapasitas untuk ibu rumah tangga ini dapat pula dilakukan melalui sejumlah lembaga atau ruang sosial yang dekat dengan ibu rumah tangga, misalnya melalui kelompok pengajian keagamaan, kelompok organisasi masyarakat terbawah seperti PKK. Selain dapat ditempuh melalui instansi pemerintah selevel desa, misalnya.

Cara Ibu Rumah Tangga mengamputasi Radikalisme dalam Keluarga

Senada dengan Nasaruddin, besarnya peran seorang ibu rumah tangga di dalam keluarga diyakini oleh Direktur Wahid Foundation, Yenny Wahid. Keberadaan ibu rumah tangga dalam konteks penanggulangan terorisme dan radikalisme merupakan potensi besar yang dapat dilibatkan secara aktif dalam penanggulangan radikalisme, terutama di dalam level keluarga.

Pada tahap ini, Yenny membagi sejumlah cara yang dapat dilakukan oleh ibu rumah tangga untuk membentengi anggota keluarga dari bahaya serangan radikalisme, khususnya anak, sebagai anggota keluarga yang paling rentan terpapar radikalisme. Hal pertama yang dapat ditempuh adalah dengan memberi perhatian yang lebih kepada anak. Menurut putri kedua Gus Dur ini, kedekatan hubungan antara ibu dan anak merupakan penangkal utama bagi tumbuhnya bibit radikalisme di dalam keluarga.

“Kita sebagai ibu rumah tangga harus tahu seperti apa anak kita, perilakunya, termasuk tahu apa yang sedang dikerjakan oleh anak kita,” ujar Yenny.

Kendati begitu, lanjut Yenny, cara pertama ini memiliki kelemahan yakni umumnya anak tidak akan begitu saja terbuka terhadap perubahan yang dialaminya. Terlebih jika si anak berniat dengan sengaja untuk menutup-nutupi hal tersebut di hadapan orang tuanya di rumah. Menghadapi hal tersebut, Yenny memiliki cara lain mengantisipasi hal tersebut, yakni dengan cara yang kedua: merekatkan hubungan antara ibu-ibu, terutama dari anak-anak yang berteman dekat.

Tahapan ini, pada dasarnya merupakan tahap antisipasi. Artinya jika perilaku anak yang sengaja ditutupi luput dari pengawasannya orang tuanya sendiri, maka dapat dibantu oleh orang tua teman si anak. “Kadang-kadang kita sebagai ibunya sendiri tidak benar-benar tahu perubahan yang sedang terjadi pada anak kita, malah yang lebih mengerti adalah ibu dari sahabat anak kita. Maka menjadi penting menjalin komunikasi yang intens antara si ibu dan ibu sahabat si anak,” jelasnya.

Cara ketiga yang dapat dilakukan oleh orang tua untuk mengantisipasi terjangkitnya anak dari paham radikalisme adalah dengan selektif memilih lembaga pendidikan untuk anak. Orang tua, lanjutnya, harus mengetahui secara mendalam apa latar belakang dan tujuan dari lembaga pendidikan tempat anak akan disekolahkan. Kesalahan memilih lembaga pendidikan, disebutnya akan berakibat fatal bagi perkembangan anak di masa mendatang. “Pilih sekolah yang nilainya sejalan dengan nilai keluarga yang mengajarkan kebaikan dan toleransi,” tegasnya.

Waspadai Perubahaan Anak sejak Awal

Sejauh ini, terdapat sejumlah fase perubahan yang dapat dikenali yang merupakan ciri-ciri perubahan seorang anak yang terjangkit paham radikalisme. Pertama adalah fase perubahan simbolik. Hal ini akan tampak dari cara berpenampilan. “Sekialas perubahan ini tampak baik-baik saja. Misalnya dari yang awalnya menggunakan celana jeans sobek-sobek berubah menjadi lebih rapi dengan menggunakan celana kain bagi laki-laki atau rok yang perempuan,” kata Yenny.

Fase selanjutnya, kata Yenny, adalah fase berani mendebat. Tahap perubahan selanjutanya adalah fase meningkatnya keberanian anak dalam mendebat orang tua atau orang di sekitarnya. Misalnya dengan menyalahkan tata cara beribadah atau menuding bahwa sebagian tata cara peribadatan selama ini sebagai aktivitas yang tak memiliki dasar hukum agama atau bid’ah.

Hingga pada tahap yang lebih ekstrim, si anak mulai abai terhadap keberadaan orang tua dan memilih untuk lebih mengutamakan murabbi atau guru spiritual di dalam organisasinya sebagai orang yang dipatuhi. “Misalnya berani menikah diam-diam tanpa persetujuan orang tua, dan lebih mengutamakan persetujuan murabbi,” lanjut Yenny.

Baik Yenny maupun Nasaruddin Umar memiliki pandangan yang sama bahwa peran ibu rumah tangga sangatlah besar. Sehingga menjadi penting bagi stake holder  baik pemerintah maupun lembaga kemasyarakatan untuk mulai melibatkan ibu rumah tangga dalam melawan radikalisme dan terorisme.

 

(Ahmad Rozali -- Media and Campaign Officer Wahid Foundation)

Tulisan ini adalah hasil liputan dalam kegiatan Rembuk Kebangsaan Perempuan Pelopor Perdamaian Antiradikalisme dan Terorisme di Gedung Bhayangkari, Rabu (30/8/2017), yang merupakan kerjasama antara Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) dan Bhayangkari Polri, dalam rangka Hari Kesatuan Gerak Bhayangkari (HKGB) ke-65 tahun 2017.

PARTNERSHIP