1. Articles     →
  2. Melawan Ekstremisme Lewat Lelucon

Melawan Ekstremisme Lewat Lelucon

Bangkok, Thailand – Tak lama setelah pusat perbelanjaan Sharinah di Thamrin, Jakarta ditikam bom dan gerimis tembakan, jagat maya dibanjiri rupa-rupa gambar dan meme, dari yang serius hingga lelucon.

Sebuah foto pelaku penembakan tengah memegang senjata yang berhasil ditangkap kamera jurnalis, dipermak entah oleh siapa, menjadi sedang menggendong keranjang belanjaan berisi rokok, permen, atau rokok. Di sampingnya ada balon teks bertuliskan “Kok, rokok, permen!”

Beredar juga foto-foto keriuhan di lokasi tak jauh titik ledakan yang terjadi awal 2016 itu. Penjual siomay, ketoprak, dan buah segar. Mereka berdagang seperti biasa. Tak tampak ketakutan.

Di tengah intimidasi teror yang memakan korban tewas dan luka-luka, lelucon bisa jadi bentuk perlawanan. “Lelucon sangat efektif sebagai pendekatan merespons ektremisme berbasis kekerasan. Foto-foto tadi contohnya,” kata Yenny Zannuba Wahid dalam Komedi dan Komik Melawan Terorisme di Hotel Dusit Thani, Bangkok, Selasa malam (26/09).

Acara yang digelar UN Women itu menghadirkan dua pembicara lain: Priyank Mathur (Direktur Eksekutif Mytos Lab) dan Aaron Haroon (Direktur Unicorn Black). Priyank produser video komedi “ I Want Quit ISIS”, Aaroon pembuat “Burqa Avanger”. Yang pertama komedi untuk melawan ISIS, yang kedua serial Kartun tentang pahlawan perempuan asal Pakistan.

Acara ini merupakan rangkaian kegiatan workshop tentang ekstremisme kekerasan yang menghadirkan peserta dari negara-negara di Asia Tenggara dan Asia Selatan.

“Dalam soal lelucon, saya belajar banyak dari Bapak saya,” kata Direktur Eksekutif Wahid Foundation itu kepada ratusan peserta.

Di Indonesia dan luar negeri, Gus Dur memang dikenal seperti pemilik pabrik lelucon. Dalam forum formal dan informal, ia biasa melempar humor. Sejumlah kepala negara dibikinnya terpingkal-pingkal.

Kepiawaiannya itu bukan tiba-tiba. Jauh sebelum menjadi Presiden, Gus Dur biasa berkomunikasi lewat lelucon.

Model lelucon yang menyegarkan suasana itu yang sering digunakan Yenny Wahid. Di forum-forum resmi atau pengajian kampungan.

Ini salah satunya. Saat Wahid Foundation –dulu bernama Wahid Institute— berkantor di rumah sewaan depan sebuah hotel yang kadang dipakai untuk “jam-jaman”, seorang kiai kampung kebingungan melihat beberapa perempuan berdandan medok keluar masuk hotel.

“Itu perempuan sedang apa ke hotel?” tanya Kiai kepada staf WF. Bingung menjawab yang sebenarnya, si staf WF akhirnya mengatakan bahwa perempuan itu hanya sedang istirahat. “Kalau istirahat mengapa tidak di Mushalla. Istirahat di sana pasti mahal,” jawab kiai lagi masih tak mengerti.

Di akhir sesi, Yenny juga menayangkan video standup comedy berbahasa Inggris oleh Sakdiyah Makruf, salah seorang komikus perempuan Indonesia. Tema yang diangkat seputar peran perempuan dan intoleransi.

 

Alamsyah M Dja’far

PARTNERSHIP