1. Artikel     →
  2. Kalau Tidak, Gedung ini Bakal…

Kalau Tidak, Gedung ini Bakal Roboh

Oleh: Alamsyah M Dja'far*

Lepas pukul setengah enam sore, bersama Muhammad Subhi Azhari, kolega kerja di Wahid Institute, saya keluar kantor hendak pulang ke rumah masing-masing di Depok, Jawa Barat. Saban hari kami biasa berangkat-pulang kerja dengan kereta.

Kami berpapasan dengan Mbak Yenny Wahid yang bersiap-siap masuk ke mobil yang terparkir di depan kantor. “Doakan semoga Gus Dur sehat lagi,” katanya kepada kami. Senja itu puteri kedua Gus Dur yang juga menjadi pimpinan kami ini di Wahid Institute ini akan menuju RSCM, tak jauh dari Wahid. Di sana Gus Dur di rawat.

Saya lihat wajahnya agak sedikit tegang. Tapi saya tak berpikir situasinya akan lebih buruk dari yang dibayangkan. Siang hari suasana di kantor memang sedikit tegang. Tiba kabar, Gus Dur butuh darah. Beberapa jam berikutnya datang lagi informasi pendiri Wahid Foundation dan Presiden keempat Republik Indonesia ini mulai baikan.
Di atas kereta, kami mendengar berita sakitnya Gus Dur. Seorang penumpang mendengar berita dari seluler lalu obrol dengan teman di sampingnya. Kami ikut menguping. Persis menuju Stasiun Pasar Minggu, berita meninggalnya Gus Dur terkonfirmasi.

Kami kaget bukan kepalang. Turun di Pasar Minggu kami putar badan ke Manggarai lalu melesat ke RSCM yang dihadang kemacetan jalan. Di rumah sakit itu, orang membludak. Sebagian menangis. Saya ikut menangis.
Makin lama RSCM makin dibanjiri orang, terutama di selasar kamar tempat Gus Dur disemayamkan. Suasana ramai seperti di pasar. Ada yang meraung-raung. Beberapa jam setelah itu jenazah Gus Dur ditandu keluar diiringi ribuan orang. Di antaranya yang berebut menandu adalah seniman Dorce Gamalama. Ia berebut dengan puluhan anggota Bantuan Serba Guna (Banser) Gerakan Pemuda Anshor. Dorce juga menangis.

Belakangan baru saya tahu dari puteri pertama Gus Dur, Mbak Alissa Wahid, jika pihak RSCM sudah memaksa agar Gus Dur segera dibawa keluar. “Kalau tidak, gedung ini bakal roboh,” kata pihak RSCM seperti ditirukan Mbak Alissa. Orang yang mendatangi RSCM memang tak bisa dicegah. Di RSCM ini saya juga bertemu Wiwit R Fathurrahman.
Suasana di Ciganjur malam saat Gus Dur disemayamkan lebih ramai dari RSCM. Pejabat, tokoh agama lintas-iman, aktivis, atau orang biasa tumpah ruah. Keramaian masih tersisa hingga pukul 2 malam. Lepas pukul 2 malam saya pulang ke rumah.

Keesokan harinya saat Gus Dur dikebumikan di Tebu Ireng, jumlah orang yang datang makin berlipat ganda dari pengunjung yang datang ke Ciganjur. “Ini fenomena yang langka di Indonesia. Penghormatan orang pada Gus Dur sungguh luar biasa,” kata seorang tokoh.

*
Lebih dari setengah tahun setelah Gus Dur “pergi”, muncul keingian untuk mendokumentasikan kisah-kisah dari sahabat, teman, murid, para aktivis, seniman, budayawan dari tokoh demokrasi ini. Harapan itu bertemu dengan Mbak Lola yang bekerja di salah satu penerbit nasional.

Kami lalu bertemu untuk mewujudkan ide ini. Di internal Wahid Institute, kami mendiskusikan siapa nama-nama yang masuk daftar untuk dimintai tulisan atau wawancarai. Jumlahnya lebih dari 40-an orang. Dari ulama hingga seniman. Ini menunjukan betapa luasnya pergaulan Gus Dur.
Selama enam bulan kami meminta menghubungi nama-nama yang sudah dalam daftar. Kami menawarkan mereka dua hal: menulis sendiri atau wawancara. Mereka yang menulis langsung ihwal pengalaman dengan Gus Dur semuanya diterbitkan dalam buku ini. Editor hanya menyunting seperlunya.

Saya sangat bersyukur terlibat dalam proses penyusunan buku ini. Selain kisah-kisah yang menarik dari narasumber utarakan, sebagian pengalaman mewawancari juga berkesan. Misalnya, kami mesti menunggu Inul Daratista menangi sesenggukan ketika wawancara baru dimulai beberapa menit. Ia menangis. Air matanya keluar dan berkali-kali diusapnya. Pesohor lain seperti Dorce juga menangis saat ia berkisah tentang kiai yang dikaguminya itu.

Kami juga mewawancarai KH Noer Iskandar, pengasuh Pondok Pesantren Ashidiqiyyah Jakarta. Kiai yang sejak lama mengenal dan ikut terlibat dalam politik bersama Gus Dur ini juga menangis di awal-awal kisahnya tentang Gus Dur. Mengapa orang-orang ini sampai menangis? Sebegitu dalamkah kehilangan dan kekaguman mereka?

Dengan terlibat dalam menyusun buku ini, kami banyak “minum” air pengetahuan tentang nilai-nilai yang diwariskan Gus Dur: kesederhaan, keberanian, pengetahuan yang luas, dan kemampuan melempar humor. Pada saat yang sama, kami seperti dijebloskan dalam banyak wajah Gus Dur. Sebagai kiai, politisi, budayawan, penulis, aktivis, guru bangsa, seorang ayah, teman. Tentu tidak semua setuju dengan pikiran dan sepak terjangnya, tapi secara umum mereka menghormati pilihan dan sikap Gus Dur.

Lihat misalnya ketidaksetujuan Frans Magnis Suseno, akrab dipanggil Romo Magnis, tentang beberapa langkah Gus Dur, terutama di lapangan politik. Tapi Romo menghormati bahkan melempar pernyataan yang membuat kami merinding: “Ia orang yang enak, dan saya selalu bisa ke situ. Ia termasuk orang paling berarti yang pernah saya temui dalam hidup saya”.

Beberapa nama lain yang kami juga wawancarai, namun tidak diterbitkan di buku ini antara lain penyanyi legendaris Iwan Fals, mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud MD, Akbar Tanjung, hingga wakil Jusuf Kalla. Waktu kami wawancarai, JK menjadi ketua Palang Merah Indonesia. Kisah dan pengalaman-pengalaman mereka juga tak kalah mengesankan. Rencananya kisah-kisah mereka akan kami terbitkan dalam buku lanjutan kisah-kisah tentang Gus Dur ini.

Secara khusus kami juga ingin menyampaikan rasa terima kasih kepada para narasumber dan penulis buku ini. Tulisan dan kisah-kisah tersebut sangat berharga bagi Wahid Foundation, juga keluarga besar KH Abdurrahman Wahid: Ibu Shinta Nuriyah Wahid, Mbak Alissa Wahid, Mbak Yenny Wahid, Mbak Anita Wahid, dan Mbak Inayah Wahid.

Kami juga sangat berterima kepada Mbak Yenny Wahid yang mempercayakan kami berdua menyunting buku ini. Ucapan ini kami sampaikan kepada para senior dan kolega kami di Wahid Foundation: Mas Ahmad Suaedy, Mas Rumadi Ahmad, Mas Abdul Moqsith Ghozali, Muhammad Subhi Azhari, Gamal Ferdhi Hasan, Badrus Samsul Fata, Nurun Nisa.

Rumah Pergerakan Gus Dur, 16 Agustus 2017

*Dalam buku "Gus!, Sketsa Seorang Guru Bangsa".  

PARTNERSHIP