1. Artikel     →
  2. Beragama Dengan Telinga

Beragama Dengan Telinga


Oleh : Muhammad Milkhan

Seruan Tuhan itu tampak gagal menembus kedalam relung hati, lalu mewujud tingkah laku yang Islami. Kesalehan perilaku yang diharapkan hadir melalui jalur indera pendengaran ternyata nihil dalam hasil. Ketergantungan kita akan fungsi telinga sebagai salah satu jalan untuk meresapi seruan dakwah seringkali hanya menemui jalan buntu.


Hal ini dapat dilihat dari meningkatnya ketergantungan tempat ibadah (masjid) terhadap keberadaan pengeras suara. Tidak sedikit takmir yang maerasa perlu menghadirkan pengeras suara; agar kelantangan dan pekik dakwah bisa menjangkau tempat yang lebih luas. Bagi mereka, volume pengeras suara penting untuk dilipatgandakan, dengan harapan jumlah jamaah akan mengalami peningkatan yang sama. Memang, harapan tersebut terkadang hanya menghadirkan kesia-sian, namun cara itu terus ditempuh, entah sampai kapan.

Abdurrahman Wahid (Gus Dur) mengistilahkan Islam berpengeras suara tersebut sebagai hiruk pikuk yang menampilkan suara lantang semata, tanpa mampu menghasilkan ketaatan bergama secara lahir batin. Bacaan Alquran, tarhim (anjuran bangun malam untuk menyongsong saat shalat subuh) dan sederet pengumuman yang terpampang di tempat ibadah kerap kali muncul dari keinginan untuk ‘menginsafkan’ kaum muslimin yang dianggap sedang terlena dalam arus kemajuan zaman. Sayangnya, banyak dari kita yang lupa, di luar sana ada hak orang lain yang terampas akibat hiruk pikuk pengeras suara yang terlampau lantang.

Padahal nabi Muhammad mengatakan, kewajiban (agama) terhapus dari tiga manusia: mereka yang gila (hingga sembuh), mereka yang mabuk (hingga sadar), dan mereka yang tidur (hingga bangun). Selama ia masih tidur, seorang tidak terbebani kewajiban apapun. Maka dakwah yang lantang dengan menggunakan pengeras suara perlu dilakukan peninjauan kembali. Harus ada penjagaan bagi mereka yang tidak terkena kewajiban: Orang jompo yang memerlukan kepulasan tidur, jangan sampai tersentak. Wanita yang haid jelas tidak terkena kewajiban sembahyang. Tetapi mengapa mereka harus diganggu? Termasuk anak-anak yang belum akil baligh (Abdurrahman Wahid, 1999: 36-38).

Seruan apapun yang mengajak kepada kebaikan, termasuk adzan, sesungguhnya telah diatur sedemikian rupa dalam Islam, yakni; bil ma’ruf wal mauidzotil khasanah. Seruan yang bising dan cenderung menggebu-nggebu membuat kesantunan hukum Islam yang tegas berubah menjadi sesuatu yang terkesan keras dan berat bagi sebagian umat. Lalu Islam terkesan tampil lebih garang menyambut berbagai fenomena perkembangan zaman.

Betapa teknologi pengeras suara yang kemudian digandrungi dalam dunia dakwah Islam hanya menghadirkan keriuhan yang memekakan telinga. Bagaimana kita akan dapat meresapi keindahan lirik ajakan shalat yang dikumandangkan oleh seorang muadzin, bila dalam waktu yang bersamaan suara-suara itu seolah saling adu lantang, saling menyerang, saling bertumbuk, tidak mau mengalah antara satu masjid dengan masjid yang lainnya?

Sekilas seruan-seruan tersembut menunjukkan gairah untuk mengajak kepada jalan kesalehan, tetapi bila kita resapi lebih dalam, justru estetika religius dalam berbagai kemeriahan yang diperdengarkan lewat pengeras suara tersebut benar-benar sirna. Kemeriahan seperti itu menurut Nurcholis Madjid bukanlah kemeriahan dakwah yang penuh hikmah.

Mengutip Thomas W. Lippman dalam bukunya, Understanding Islam, Cak Nur mencontohkan dakwah Rasulullah yang penuh hikmah sehingga mampu menginspirasi generasi setelahnya untuk menyebarkan ajaran Islam ke berbagai penjuru bumi, “Digerakkan bukan oleh pedang tetapi oleh kegairahan dan teladan, Islam berkembang mencapai gunung-gunung daratan Asia, menyebar ke sawah-sawah tanah tropis, dan menyusup ke semak-semak Afrika. Tidak ada kekuasaan pusat yang mengirim misionaris-misionaris; orang Islam begitu saja pergi menurut dorongan bisnis dan kecenderungan pribadinya, dan kemana-mana ia membawa agamanya”. (Tempo, 11/04/1992; 24)

Pedang adalah simbol kekerasan yang mengandung paksaan. Di era modern pedang bisa juga diumpamakan pengeras suara; kerasnya pendang mirip dengan lantangnya bunyi pengeras suara, karena diperdengarkan di ruang publik tanpa mengindahkan hak orang lain untuk meresapi suasana hening, apalagi bila yang mengumandangkan tanpa dibekali kemampuan yang mumpuni dalam pelafalan tiap bait seruan. Mengandung paksaan karena diperdengarkan tanpa aturan yang jelas, baik dari segi volume suara maupun jangkauan bunyi.

Kegairahan ibadah memang tampak dari hingar bingar seruan yang lantang di waktu yang hampir bersamaan, namun gairah itu mengurangi nilai keteladanan seperti yang dicontohkan oleh Rasulullah yang terkenal santun dan lemah lembut dalam tiap ucapan. Untuk persoalan bunyi, Rasulullah memilih Bilal sebagai muadzin bukan tanpa pertimbangan, jelas bahwa selain suaranya yang merdu, Bilal juga memiliki kelantangan suara yang dapat dipertanggungjawabkan keindahan baik dari segi lafadz maupun kemerduan suaranya.

Bahkan kepada mereka yang tidak seiman dengan kita, Alquran dengan tegas menganjurkan kepada umat Islam agar memperlakukan mereka dengan sebaik mungkin, termasuk dalam hal cara berdakwah. Misalnya dalam surah At-Taubah ayat 6, “Jika salah seorang kaum musyrik meminta perlindungan kepadamu, berilah (perlindungan), hingga didengarnya firman Allah. Kemudian anatarlah ia sampai ke tempat yang aman baginya. Yang demikian itu karena mereka orang yang tiada pengetahuan“. (HB Jassin, Bacaan Mulia, 1982:249)

Dalam ayat di atas jelas bahwa berperilaku baik bahkan kepada selain pemeluk Islam mutlak harus dilakukan. Sebab itu merupakan kesempatan bagi kita untuk “memperdengarkan firman Allah kepada mereka”. Hanya saja anjuran untuk ‘memperdengarkan’ di sini bukan diartikan bahwa kaum muslimin harus berlomba-lomba mengeraskan seruan agama di waktu fajar, lebih-lebih memperdengarkan suara kaset pengajian atau yang semacamnya.

Di samping semua itu dapat mengganggu bukan saja kepada mereka yang berbeda keyakinan dengan kita, tetapi juga bayi-bayi, orang-orang sakit, bahkan mereka yang sehat tetapi masih membutuhkan sedikit tidur sebelum berakhirnya subuh. (Quraish Shihab, 1996 C VIII:74-76)

Memperdengarkan firman Allah kepada mereka yang membutuhkan juga termasuk menunjukkan sikap yang dianjurkan oleh firman Allah tersebut, seperti keramahtamahan, kejujuran, ketepatan waktu, kebersihan, dan lain-lain. Inilah hal-hal yang apabila diterapkan dengan sungguh-sungguh, maka ajakan untuk menginsafi wahyu Ilahi sebagai pedoman hidup sehari-hari, akan lebih mudah diterima dengan tangan terbuka.

Bukan Islam yang dikeraskan melalui toa-toa di pucuk menara, bukan pula wahyu Illahi yang akan membangkitkan ketaatan tanpa henti dengan cara mengumandakannya secara bertubi-tubi. Adalah kesantunan dan keramahtamahan perilaku Rasulullah lah yang membuat Islam begitu mudah memberi pengaruh keimanan kepada banyak mualaf di masa awal kedatangannya.

Banyak kisah menyebutkan, bahwa Rasulullah adalah pribadi yang lemah lembut, baik dari ucapan maupun tindakannya. Tanpa perlu memaksakan kehendak ataupun menyeru ke jalan Illahi dengan kekerasan, beliau hadir di tengah-tengah masyarakat menyampaikan amanat wahyu illahi dengan kemenangan yang gemilang. Derajat moralitas seseorang akan terlihat dari cara orang tersebut berhubungan dengan Tuhan, sesama manusia dan alam, atau cara orang itu bergerak kedalam ruang dan waktu. (Sahal Mahfudh, 1994:141)

Mungkin saat ini telinga kita masih berfungsi dengan baik, mendengarkan setiap seruan kebaikan melalui berbagai bentuk pengeras suara. Namun hanya telinga itu saja yang berfungsi dengan baik, nurani dan akal budi kita lah yang justru tuli. Di tempat suci, rumah tuhan di daerah Bekasi, tragedi pembakaran (tertuduh) pencuri itu terjadi. Bermula dari kecurigaan hilangnya perangkat pengeras suara, benda yang dianggap paling penting saat ini di setiap tempat ibadah sebagian umat Islam, pemuda itu harus meregang nyawa secara tragis.

Ini adalah pertanda perlunya evaluasi perilaku keberagamaan kita. Jangan-jangan, kita hanya beragama dengan telinga, berhenti di situ saja. Hingga hilangnya perangkat pengeras suara harus ditebus dengan nyawa. Mungkin dengan hilangnya pengeras suara, kita khawatir agama juga akan ikut sirna dari dalam diri kita, betapa rapuhnya pemahaman kita akan fungsi dan makna agama.

Mungkin pengeras suara itulah yang menyebabkan kita menjadi lebih sadis, bengis terhadap yang selain kita, bahkan terhadap sesama yang kebetulan sedang dirundung kesusahan. Layakanya faktor geografis yang berpengaruh dengan tingkah laku penghuni di suatu daerah, demikian juga teknologi pengeras suara di pusat-pusat keagamaan umat Islam. Bisa jadi itu yang menyebabkan perilaku dan nurani kita ikut mengeras, bising, pekik yang memekakkan sesama, bahkan merampas hak hidup orang lain dengan menghilangkan nyawanya.

Mungkin...

 

penulis adalah Alumni International Visitor Leadership Program (IVLP) FY16 on Civil Society in Muslim Communities, Bergiat di Bilik Literasi Colomadu dan Penggiat Gusdurian Klaten, aktif sebagai Pengurus Cabang Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Klaten

PARTNERSHIP